Setajam pena tua menulis syair yang telah lama bergelut di palung hati.
Aku tulis semua cerita paling pilu di baris - baris puisi.
Tak selama yang kau bayangkan aku mampu bertahan.
Sekuntum kamboja di jiwaku kian ronta menuntut aku bicara.
Lalu aku lukis pada kesahajaan kertas ini.
Apakah aku harus menyesal pada perasaanku yang seolah tabu.
Akankah terlukis segaris tanya bila kau baca resah ini.
Seluruh resah, setumpuk hasrat, hanya berharap pada cinta dan deru nafsumu.
Kering dan lesu mataku bila kurenung rona matahari yang gerhana.
Lalu lenyaplah angka – angka dan arah.
Untuk aku kembali menyulam keindahan.
Tampias di jendela.
Menyulap warta dan aksara yang memberitakan ;
Aku telah kehilangan siluet tawamu .
Lemah dan berdebu berjengkal langkah.
Meng-anak sekarat gores luka pada hitam nadiku.
Bila ku hirup sisa cinta yang tertinggal.
Masihkah ada senyum beningmu?
Untuk aku tegarkan langkah kaki menjamahi hari – hari.
Menjamahi mimpi – mimpi.
Menjamahi sapa lembutmu.
Juga menyetubuhi anggun jelita bayangmu.
Jakarta, 15 Maret 2010
Menulislah ketika lidah tak cukup untuk menyuarakan gelora dan hasrat di jiwamu.....
Jumat, Mei 14, 2010
Kamis, Mei 13, 2010
Di Kesunyian Jiwa yang Merindu
Semburat pesona mentari di ufuk timur
Lembut semilir angin utara perlahan mengiring datangnya pagi
Sang waktu mengantar hari berganti
Dan alam pun berdzikir menyebut ke ajaiban Sang Pencipta
Sungguh pagi yang membuat jiwaku bergetar dalam damai
Di keheningan padang belantara pemikiran
Di kesunyian sekeping jiwa yang merindu
Aku tertegun
Merenungi tapak demi tapak jalan pehuh liku seakan tak berujung …..
Alangkah indahnya , jika setiap hati terselimuti oleh kasihmu
Tapi hasrat hanyalah sebuah keinginan membuncah
Sedang realita terpasung
Kadangkala,
Aku tak dapat membuktikan apa,
bagaimana dan siapa
Seperti keinginan sekeping jiwa yang bernyanyi sendu
Dalam hiruk pikuk dunia dan keajaiban alam raya
Aku berhening diri dalam kerangka hasrat
Meski aku mengerti, sungguh aku mengerti
Bumi terus berputar, waktu pun terus berlalu
Dan aku harus tetap melangkah
Tetap melangkah…
Jakarta, 13 Mei 2010
Lembut semilir angin utara perlahan mengiring datangnya pagi
Sang waktu mengantar hari berganti
Dan alam pun berdzikir menyebut ke ajaiban Sang Pencipta
Sungguh pagi yang membuat jiwaku bergetar dalam damai
Di keheningan padang belantara pemikiran
Di kesunyian sekeping jiwa yang merindu
Aku tertegun
Merenungi tapak demi tapak jalan pehuh liku seakan tak berujung …..
Alangkah indahnya , jika setiap hati terselimuti oleh kasihmu
Tapi hasrat hanyalah sebuah keinginan membuncah
Sedang realita terpasung
Kadangkala,
Aku tak dapat membuktikan apa,
bagaimana dan siapa
Seperti keinginan sekeping jiwa yang bernyanyi sendu
Dalam hiruk pikuk dunia dan keajaiban alam raya
Aku berhening diri dalam kerangka hasrat
Meski aku mengerti, sungguh aku mengerti
Bumi terus berputar, waktu pun terus berlalu
Dan aku harus tetap melangkah
Tetap melangkah…
Jakarta, 13 Mei 2010
SETYOWATI DAN BULAN FAJAR MERAH
Kabut api meski sejuk pagi buta ini. Berdetak bersama menyatu dengan ke-emasan cahaya bulan sisa-sisa semalam.
Sesak. Teramat sesak! Wajah pucatmu tak mampu sembunyikan nada gelisahmu.
Bulan fajar merah………………….. Cahaya emasmu bersatu dengan kabut api pagi menemani sosok gadis belasan tahun, Setyowati.
Duhai Setyowati…! Tubuhmu mulai kurus……… mengecil, seiring mengecil langkah-langkahmu menyusuri lorong – lorong hidup yang kian kabur. Berat dan kian berat! Beban yang engkau pikul meski pundakmu bukan pundak yang harus memikul beban di depan matamu, juga di sisi – sisi tanganmu.
Setyowati….! Rambut panjang lurusmu, kemana kini kilau hitamnya? Dan telah engkau buang kemana binar cerah di kedua bola matamu? Yang dengannya engkau melihat ikan – ikan emas di kolam hijau berbunga teratai ungu. Serta, yang dengannya engkau hiasi senyum - senyum indahmu.
Setyowati….! Siapa yang mengganti rona merah padang mbulan kedua pipimu dengan warna – warni pucat pasi dan titik – titik duka air mata? Kecewa, duka nestapa, kesunyian diam beratus rasa menyatu di dirimu kini, Setyowati.
Bulan fajar merah, Sinar emasmu menyatu dengan kabut api pagi ini. Sampai kapan kuatmu menemani gadis milik para burung, para bunga, juga taman – taman ini? Hingga duka dan tangisan ratusan wanita di dusun – dusun, di kota – kota, di kebun – kebun anggur pun tak mampu menandingi duka nestapanya.
Duhai Setyowati, Air matamu jatuh satu – satu, membasahi gaun putihmu, juga kaki – kaki kecilmu. Siapa yang telah tega menukar cinta suci dan setia-mu dengan busuknya dunia?
Jakarta, 13 Mei 2010
Sesak. Teramat sesak! Wajah pucatmu tak mampu sembunyikan nada gelisahmu.
Bulan fajar merah………………….. Cahaya emasmu bersatu dengan kabut api pagi menemani sosok gadis belasan tahun, Setyowati.
Duhai Setyowati…! Tubuhmu mulai kurus……… mengecil, seiring mengecil langkah-langkahmu menyusuri lorong – lorong hidup yang kian kabur. Berat dan kian berat! Beban yang engkau pikul meski pundakmu bukan pundak yang harus memikul beban di depan matamu, juga di sisi – sisi tanganmu.
Setyowati….! Rambut panjang lurusmu, kemana kini kilau hitamnya? Dan telah engkau buang kemana binar cerah di kedua bola matamu? Yang dengannya engkau melihat ikan – ikan emas di kolam hijau berbunga teratai ungu. Serta, yang dengannya engkau hiasi senyum - senyum indahmu.
Setyowati….! Siapa yang mengganti rona merah padang mbulan kedua pipimu dengan warna – warni pucat pasi dan titik – titik duka air mata? Kecewa, duka nestapa, kesunyian diam beratus rasa menyatu di dirimu kini, Setyowati.
Bulan fajar merah, Sinar emasmu menyatu dengan kabut api pagi ini. Sampai kapan kuatmu menemani gadis milik para burung, para bunga, juga taman – taman ini? Hingga duka dan tangisan ratusan wanita di dusun – dusun, di kota – kota, di kebun – kebun anggur pun tak mampu menandingi duka nestapanya.
Duhai Setyowati, Air matamu jatuh satu – satu, membasahi gaun putihmu, juga kaki – kaki kecilmu. Siapa yang telah tega menukar cinta suci dan setia-mu dengan busuknya dunia?
Jakarta, 13 Mei 2010
Sabtu pun Meranggas
Desir angin pagi sampaikan senyum ungu seorang bidadari pada sebuah nama yang tergagap - gagap di depan cermin tua.
Lau cermin itu pun berteriak dalam bengis tutur nya:
Inilah kamu, pengembara yang mendaki di persimpangan jalan.
O, bidadari yang bersengketa dengan sinar rembulan yang ingkar janji tadi malam.
Mengapa engkau berikan senyum ungu kepadaku ?
Aku hanya seorang perindu.
Dan untuk seorang perindu, penantian hanyalah sebuah tanda waktu.
Angka – angka yang bicara.
Sedang di hati perindu tak akan ada kata – kata yang menjelma jenuh luka.
O, hentikan saja jenaka bermadah.
Terlalu sering ku dengar.
Cerita cinta tak akan berubah.
Hanya sederet mimpi yang indah.
Sebuah akhir di ujung kecewa, pilu, terkoyak dan luka.
Bukalah sedikit hatimu, wahai bidadari
Kenali siapa aku.
Pada parit aku pendam rasa hati.
Sebuah jawaban untuk sebuah nama yang nenanti aku di musim - musim kematian.
....dan wahai lembayung pagi.
Sampaikan madu pada gelas pesta ini kepadanya.
Tak kusangka kegairahan, membuka gerbang seribu mimpi - seribu rindu sekaligus seribu cahaya rembulan.
Dan tak akan kubangun seribu menara di atas unggun dendam dan sebaris luka pada hati.
Jakarta, 15 Maret 2010
Lau cermin itu pun berteriak dalam bengis tutur nya:
Inilah kamu, pengembara yang mendaki di persimpangan jalan.
O, bidadari yang bersengketa dengan sinar rembulan yang ingkar janji tadi malam.
Mengapa engkau berikan senyum ungu kepadaku ?
Aku hanya seorang perindu.
Dan untuk seorang perindu, penantian hanyalah sebuah tanda waktu.
Angka – angka yang bicara.
Sedang di hati perindu tak akan ada kata – kata yang menjelma jenuh luka.
O, hentikan saja jenaka bermadah.
Terlalu sering ku dengar.
Cerita cinta tak akan berubah.
Hanya sederet mimpi yang indah.
Sebuah akhir di ujung kecewa, pilu, terkoyak dan luka.
Bukalah sedikit hatimu, wahai bidadari
Kenali siapa aku.
Pada parit aku pendam rasa hati.
Sebuah jawaban untuk sebuah nama yang nenanti aku di musim - musim kematian.
....dan wahai lembayung pagi.
Sampaikan madu pada gelas pesta ini kepadanya.
Tak kusangka kegairahan, membuka gerbang seribu mimpi - seribu rindu sekaligus seribu cahaya rembulan.
Dan tak akan kubangun seribu menara di atas unggun dendam dan sebaris luka pada hati.
Jakarta, 15 Maret 2010
Sajak Penyamaran Pandawa
Pada sebuah musim bunga di kemegahan istana Wirata.
Desir semilir angin pagi bergolak di keharuman taman istana .
Gemercik tetes – tetes air mengalun jatuh di pancuran.
Reranting kamboja merah bersengketa dengan perjalanan sunyi sang waktu.
Sedang gugur – gugur daun yang bersemayam di kolam masih juga tengadah pada ranting – ranting yang dulu melahirkannya.
“O, Yudhistira. Begitu pandai engkau wahai suamiku, namun begitu bodohnya engkau ! ”, batin Drupadi bergolak.
Hampir setahun Drupadi berganti nama.
Dan pada masa itu, orang – oarng Wirata memanggilnya Sarindhri.
Ya, Sarindhri !
Nama yang dulu Drupadi menyebutkannya ketika dia dan Pandawa memasuki Wirata sebagai sebuah penyamaran.
Dua belas tahun berlalu.
Begitu berat bagi Pandawa dan Drupadi harus mengembara dari hutan ke hutan.
Tiga belas tahun waktu yang di pertaruhkan lewat dadu di atas meja judi istana Hastina.
O, Sangkuni.
Begitu liciknya manusia itu…
Langkah Sarindhri begitu lembut menyusuri taman keputren istana.
Dan tertangkap di bening kedua matanya, Tantripala.
Begitu riuh tangan – tangan Tantripala merenungi nasib – nasib bunga di taman.
Seolah merenungi nasibnya :
Harus menyamar dan berganti nama dari sorang Sadewa menjadi Tantripala.
Yudhistira berpakaian sanyasin. Penasehat Wirata. Bijak dan cendikia.
Entahlah, mengapa dia memilih nama Kanka.
Abilawa, demikian penyamaran Bima.
Di tangannya, hewan – hewan terjagal lalu terhidang di atas meja – meja makan para pembesar Wirata.
Arjuna datang sebagai Wrehanala.
Begitu gemerlap pakaiannya.
Gemulai dia menari hingga selalu memicingkan mata yang melihatnya.
Sedang Nakula bersembunyi sebagai Grantika.
Begitu banyak kuda – kuda yang harus di latihnya untuk tunggangan pasukan berkuda Wirata.
Sungguh, begitu sempurna Pandawa menyamar pada kemegahan istana Wirata.
Hingga tak tersentuh mata – mata Hastina, sedikit pun.
Lalu,….terjadilah huru – hara itu.
Hastina dengan Karna sebagai panglima perang menyerang Wirata dengan begitu pongah.
Gegap gempita pasukan Hastina memasuki Wirata.
Dan Arjuna memasuki medan perang, datang menyambut…
Begitu gagah perkasa serupa Batara Indra.
Tajam sorot mata panahnya seolah belati menghunus jantung pasukan Hastina hingga remuk redam.
Sementara, dengan jiwa terbakar, Bima menghancurkan gajah - gajah Hastina.
Dan terdengar jeritan gajah – gajah itu, lalu menjelma riuh yang gaduh di medan perang.
Terkapar lalu mati.
Porak poranda….mengikis nyali dan nafsu perang seorang Karna.
O, Pandawa ….!
Kelima anak – anak Pandu itu pun mengusir Karna dan pasukan Hastina dengan jiwa – jiwa hening mereka.
Ini adalah hari terakhir penyamaran Pandawa di Wirata.
Tiga belas tahun sudah mereka lalui.
KIsah – kisah paling memilukan, harus terusir dari Hastinapura.
O, Jagad Dewa Batara !
Anak – anak Pandu membelah keheningan malam.
Dengan cahaya remang rembulan jingga.
Bersatu dengan desir angin purba.
“Arjuna, sudah lama kita tinggalkan peraduan cinta. Dari hutan ke hutan. Dari pantai ke pantai.
Menjamahi hari – hari. Menjamahi mimpi – mimpi. Mari kita bercinta, Arjuna !”, sapa kemayu Drupadi kepada Arjuna.
Dan mereka pun bercinta, meng-usaikan kisah – kisah paling memilukan :
Pembuangan dan penyamaran Pandawa.
Jakarta, 09 Maret 2010.
Desir semilir angin pagi bergolak di keharuman taman istana .
Gemercik tetes – tetes air mengalun jatuh di pancuran.
Reranting kamboja merah bersengketa dengan perjalanan sunyi sang waktu.
Sedang gugur – gugur daun yang bersemayam di kolam masih juga tengadah pada ranting – ranting yang dulu melahirkannya.
“O, Yudhistira. Begitu pandai engkau wahai suamiku, namun begitu bodohnya engkau ! ”, batin Drupadi bergolak.
Hampir setahun Drupadi berganti nama.
Dan pada masa itu, orang – oarng Wirata memanggilnya Sarindhri.
Ya, Sarindhri !
Nama yang dulu Drupadi menyebutkannya ketika dia dan Pandawa memasuki Wirata sebagai sebuah penyamaran.
Dua belas tahun berlalu.
Begitu berat bagi Pandawa dan Drupadi harus mengembara dari hutan ke hutan.
Tiga belas tahun waktu yang di pertaruhkan lewat dadu di atas meja judi istana Hastina.
O, Sangkuni.
Begitu liciknya manusia itu…
Langkah Sarindhri begitu lembut menyusuri taman keputren istana.
Dan tertangkap di bening kedua matanya, Tantripala.
Begitu riuh tangan – tangan Tantripala merenungi nasib – nasib bunga di taman.
Seolah merenungi nasibnya :
Harus menyamar dan berganti nama dari sorang Sadewa menjadi Tantripala.
Yudhistira berpakaian sanyasin. Penasehat Wirata. Bijak dan cendikia.
Entahlah, mengapa dia memilih nama Kanka.
Abilawa, demikian penyamaran Bima.
Di tangannya, hewan – hewan terjagal lalu terhidang di atas meja – meja makan para pembesar Wirata.
Arjuna datang sebagai Wrehanala.
Begitu gemerlap pakaiannya.
Gemulai dia menari hingga selalu memicingkan mata yang melihatnya.
Sedang Nakula bersembunyi sebagai Grantika.
Begitu banyak kuda – kuda yang harus di latihnya untuk tunggangan pasukan berkuda Wirata.
Sungguh, begitu sempurna Pandawa menyamar pada kemegahan istana Wirata.
Hingga tak tersentuh mata – mata Hastina, sedikit pun.
Lalu,….terjadilah huru – hara itu.
Hastina dengan Karna sebagai panglima perang menyerang Wirata dengan begitu pongah.
Gegap gempita pasukan Hastina memasuki Wirata.
Dan Arjuna memasuki medan perang, datang menyambut…
Begitu gagah perkasa serupa Batara Indra.
Tajam sorot mata panahnya seolah belati menghunus jantung pasukan Hastina hingga remuk redam.
Sementara, dengan jiwa terbakar, Bima menghancurkan gajah - gajah Hastina.
Dan terdengar jeritan gajah – gajah itu, lalu menjelma riuh yang gaduh di medan perang.
Terkapar lalu mati.
Porak poranda….mengikis nyali dan nafsu perang seorang Karna.
O, Pandawa ….!
Kelima anak – anak Pandu itu pun mengusir Karna dan pasukan Hastina dengan jiwa – jiwa hening mereka.
Ini adalah hari terakhir penyamaran Pandawa di Wirata.
Tiga belas tahun sudah mereka lalui.
KIsah – kisah paling memilukan, harus terusir dari Hastinapura.
O, Jagad Dewa Batara !
Anak – anak Pandu membelah keheningan malam.
Dengan cahaya remang rembulan jingga.
Bersatu dengan desir angin purba.
“Arjuna, sudah lama kita tinggalkan peraduan cinta. Dari hutan ke hutan. Dari pantai ke pantai.
Menjamahi hari – hari. Menjamahi mimpi – mimpi. Mari kita bercinta, Arjuna !”, sapa kemayu Drupadi kepada Arjuna.
Dan mereka pun bercinta, meng-usaikan kisah – kisah paling memilukan :
Pembuangan dan penyamaran Pandawa.
Jakarta, 09 Maret 2010.
Pada Sebuah Keheningan Pantai
Pada hening sebuah pantai ketika di sengketakan oleh sunyi waktu.
Aku pradaksina.
Menjelajahi lengkung – lengkung semburat merah cakrawala.
Desir angin utara begitu semilir mengalun.
Sedang sejuk embun pagi telah ruap ;
Menjelma ujung belati .
Begitu tajam menghunus darah dan kebisuanku selama ini.
Gedebur ombak lamat – lamat menyampaikan salam ungu dari perjalanan seorang pertapa padaku.
Entah sudah yang ke berapa !
Mengapa dia berikan salam ungu padaku lagi ?
Sedang aku selalu gagap, luruh dan rubuh untuk menerimanya.
O, pertapa di keheningan perjalanan.
Aku begitu linglung menyingkap salam – salam itu.
Juga pagi ini, aku tak kuasa untuk sekedar mengerti.
Tunjukkan wahai pertapa,
Apa artinya awan kelabu di ujung langit jiwa ku ?
Apa artinya keharuman di balik rona merah bunga kamboja ?
Apa artinya bongkah – bongkah batu di deru air sungai mengalir ?
Apa artinya gedebur lembut ombak yang tertawa di pantai ini ?
Karena aku mengerti, wahai pertapa.
Ada tanda di balik pertanda.
Aku di sini.
Merenung lalu melintasi langit penuh imaji.
Dan aku lukis warna pekat sekuntum kaboja.
Sepekat warna darah dan dosa.
Ancol, Jakarta. 07 Maret 2010.
Aku pradaksina.
Menjelajahi lengkung – lengkung semburat merah cakrawala.
Desir angin utara begitu semilir mengalun.
Sedang sejuk embun pagi telah ruap ;
Menjelma ujung belati .
Begitu tajam menghunus darah dan kebisuanku selama ini.
Gedebur ombak lamat – lamat menyampaikan salam ungu dari perjalanan seorang pertapa padaku.
Entah sudah yang ke berapa !
Mengapa dia berikan salam ungu padaku lagi ?
Sedang aku selalu gagap, luruh dan rubuh untuk menerimanya.
O, pertapa di keheningan perjalanan.
Aku begitu linglung menyingkap salam – salam itu.
Juga pagi ini, aku tak kuasa untuk sekedar mengerti.
Tunjukkan wahai pertapa,
Apa artinya awan kelabu di ujung langit jiwa ku ?
Apa artinya keharuman di balik rona merah bunga kamboja ?
Apa artinya bongkah – bongkah batu di deru air sungai mengalir ?
Apa artinya gedebur lembut ombak yang tertawa di pantai ini ?
Karena aku mengerti, wahai pertapa.
Ada tanda di balik pertanda.
Aku di sini.
Merenung lalu melintasi langit penuh imaji.
Dan aku lukis warna pekat sekuntum kaboja.
Sepekat warna darah dan dosa.
Ancol, Jakarta. 07 Maret 2010.
Pagi Yang Kehilangan Kicau Burung
Pada sebuah pagi yang kehilangan kicau burung.
Menjelma sebuah nama pada musim bunga yang selalu aku nantikan.
Membelah nadi di kepalaku.
Lalu angin utara begitu semilir mewartakan senyum ganjil di beku bibirnya.
Terseyum, dia datang padaku :
Sosok yang begitu ungu.
Dan bawa aku pergi bersama getar musim bunga yang mewangi.
Menghunus cakrawala dengan begitu tajam.
Telah aku hirup lagi sumpek udara pagi ibukota.
Aku di terdampar disini entah seberapa jenuh, di lambung kota yang riuh.
Dan aku saksikan bocah - bocah berwajah debu menuliskan mimpi - minpi liar mereka di tembok - tembok pinggir jalan.
Juga di atas trotoar.
Jejak malam yang ruap.
Begitu gemuruh namun sunyi dan hening.
Sedang sembab mataku begitu jauh, menelanjangi sorot mentari :
Menyimpan unggun - unggun kenangan.
Langit yang hampir rebah dan sekarat
Luruh pun runtuh.
Guntur pun kian gentur, menepi terbahak membahana.
Hujan deras dan airmata.
Berkilatan di pipiku, mengalir deras ke luas samudera.
Bergolak meng-alun ombak dan tertawa.
Jakarta, 14 Maret 2010
Menjelma sebuah nama pada musim bunga yang selalu aku nantikan.
Membelah nadi di kepalaku.
Lalu angin utara begitu semilir mewartakan senyum ganjil di beku bibirnya.
Terseyum, dia datang padaku :
Sosok yang begitu ungu.
Dan bawa aku pergi bersama getar musim bunga yang mewangi.
Menghunus cakrawala dengan begitu tajam.
Telah aku hirup lagi sumpek udara pagi ibukota.
Aku di terdampar disini entah seberapa jenuh, di lambung kota yang riuh.
Dan aku saksikan bocah - bocah berwajah debu menuliskan mimpi - minpi liar mereka di tembok - tembok pinggir jalan.
Juga di atas trotoar.
Jejak malam yang ruap.
Begitu gemuruh namun sunyi dan hening.
Sedang sembab mataku begitu jauh, menelanjangi sorot mentari :
Menyimpan unggun - unggun kenangan.
Langit yang hampir rebah dan sekarat
Luruh pun runtuh.
Guntur pun kian gentur, menepi terbahak membahana.
Hujan deras dan airmata.
Berkilatan di pipiku, mengalir deras ke luas samudera.
Bergolak meng-alun ombak dan tertawa.
Jakarta, 14 Maret 2010
Dialog Dengan Seorang Pelacur Tua.
Tak peduli dengan keharuman memek atau pun bau ketek.
Juga bulatan tetek.
Ahh, kau makin tua !
Usiamu tertulis di lembar sejarah tinggal seumur embun di pagi hari.
Siapa kini ingin menyelipkan lembaran uang di sela – sela BH-mu ?
Juga menjemputmu dengan Mercy atau BMW ?
Adakah ?!
Kau tinggal seonggok tubuh berkidung sesal.
Sesal karena harus menjadi tua.
: Ah, andai aku muda dan abadi seperti Immortal Mc Leod, khayalmu.
Atau sesal karena harus melacur, 30 tahun lalu.
: Aku terpaksa, Cari kerjaan di Jakarta amat sulit Mas !, katamu .
Sedang perut masih butuh kenyang dan wajahku masih ingin di bedak dan di poles, katamu lagi.
Kasihan,
Untuk sekedar makan dan bayar kamar kost kini kau harap belas kasih lonthe – lonthe yunior-mu.
Kemana germo yang dulu kau di ajak ke Jakarta dari dusun yang ketika hujan jalannya becek dan berlumpur karena tak ber-aspal ?
Kau merenung kosong ke kalender tua yang masih saja kau pajang di tembok kamar.
Sekedar untuk mengenang hari pertama kau melacur di Jakarta, 30 tahun lalu.
Kau beri tanda jantung hati dengan spidol merah di tanggal itu !
Ya, hari pertama melacur dengan seorang presiden direkur sebuah perusahaan ternama.
Apakah engkau tau, dia mati kerena HIV,… setahun lalu.
Aku menulis nya di koran – koran.
Ahh, semoga kau tak kena virus konyol itu !
Karena kau harus menikmati sesal – sesalmu dan bercerita ke orang – orang tentang keharuman - keharuman memek, juga bulatan - bulatan tetek.
Bukankah demikian ?!
Juga bulatan tetek.
Ahh, kau makin tua !
Usiamu tertulis di lembar sejarah tinggal seumur embun di pagi hari.
Siapa kini ingin menyelipkan lembaran uang di sela – sela BH-mu ?
Juga menjemputmu dengan Mercy atau BMW ?
Adakah ?!
Kau tinggal seonggok tubuh berkidung sesal.
Sesal karena harus menjadi tua.
: Ah, andai aku muda dan abadi seperti Immortal Mc Leod, khayalmu.
Atau sesal karena harus melacur, 30 tahun lalu.
: Aku terpaksa, Cari kerjaan di Jakarta amat sulit Mas !, katamu .
Sedang perut masih butuh kenyang dan wajahku masih ingin di bedak dan di poles, katamu lagi.
Kasihan,
Untuk sekedar makan dan bayar kamar kost kini kau harap belas kasih lonthe – lonthe yunior-mu.
Kemana germo yang dulu kau di ajak ke Jakarta dari dusun yang ketika hujan jalannya becek dan berlumpur karena tak ber-aspal ?
Kau merenung kosong ke kalender tua yang masih saja kau pajang di tembok kamar.
Sekedar untuk mengenang hari pertama kau melacur di Jakarta, 30 tahun lalu.
Kau beri tanda jantung hati dengan spidol merah di tanggal itu !
Ya, hari pertama melacur dengan seorang presiden direkur sebuah perusahaan ternama.
Apakah engkau tau, dia mati kerena HIV,… setahun lalu.
Aku menulis nya di koran – koran.
Ahh, semoga kau tak kena virus konyol itu !
Karena kau harus menikmati sesal – sesalmu dan bercerita ke orang – orang tentang keharuman - keharuman memek, juga bulatan - bulatan tetek.
Bukankah demikian ?!
Langganan:
Postingan (Atom)