Jangan kau cari maya, Anakku…
Sesungguhnya hakekat maya adalah tiada
Rengkuhlah yang nyata
: Karena yang nyata adalah ada
: Ada yang sejati dan bukan ada tang di ada – adakan.
Anakku,…
Dalam alam maya
Yang ada kadang terlihat tiada
Yang tiada kadang tampak ada
Janganlah samar,
Samar terhadap gelap dalam terang
Samar terhadap terang dalam gelap
O, samar…
Samarkan hatimu, samarkan batinmu
Hanya dengan hati yang samar, batin yang samar
Kau kuasa melihat gelap dalam terang
Kau mampu menjangkau terang dalam gelap
O, samar…
Sesamar temaram cahaya Maghrib
Sesamar semburat cahaya Shubuh
Tidak terang, tidak pula gelap
O, samar…
Samar yang membatasi maya dan nyata…
Jogja, Mei 2002
Menulislah ketika lidah tak cukup untuk menyuarakan gelora dan hasrat di jiwamu.....
Tampilkan postingan dengan label Nafas Dan Gelora. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Nafas Dan Gelora. Tampilkan semua postingan
Jumat, Mei 14, 2010
Hujan Di Ufuk Pagi Di Sebuah Dusun
Gemercik rintik hujan di ufuk pagi
Tak ku sangka.
Shubuh – shubuh begini ?
Sedang perkiraan cuaca mengatakan :
“Yogyakarta Cerah, 24 – 30 deajat Celcius”
Begitu tulisan di TV semalam.
Ahh, ternyata…
Masih teramat pagi, hari ini
Dingin pun menusuk - nusuk tulangku
Butir – butir hujan jatuh satu - satu
Jauh ke depan ke batas lengkung cakrawala
Ku tatap dengan kedua bola mata liar ku
Jejalan hitam kian basah
Tak seperti biasa, udara menggelar aroma – aroma sepi
Sesepi aku menembus batas – batas keheningan
Dedaun dan ranting kelor menyalami aku dengan salam ungu.
Salam yang tegas menampar kesadaranku
Dimana perempuan setengah baya yang tiap hari jalan kaki di jalan itu ?
O, itu dia…
: Berpayung plastik putih sedikit kumal.
Di punggungnya ada tenggok yang begitu berat dia bawa dengan selendang hitam
Seberat dia melakoni kemiskinan dan kesahajaannya
Meski dia tetap tegar dan berusaha untuk terus melangkah
Hujan rintik di ufuk pagi di sebuah dusun
Masih di bilangan Gamping, sebuah kecamatan di Jogja
Tak akan pernah hilang dari ingatanku, pagi itu.
Jogja, April 2002
Tak ku sangka.
Shubuh – shubuh begini ?
Sedang perkiraan cuaca mengatakan :
“Yogyakarta Cerah, 24 – 30 deajat Celcius”
Begitu tulisan di TV semalam.
Ahh, ternyata…
Masih teramat pagi, hari ini
Dingin pun menusuk - nusuk tulangku
Butir – butir hujan jatuh satu - satu
Jauh ke depan ke batas lengkung cakrawala
Ku tatap dengan kedua bola mata liar ku
Jejalan hitam kian basah
Tak seperti biasa, udara menggelar aroma – aroma sepi
Sesepi aku menembus batas – batas keheningan
Dedaun dan ranting kelor menyalami aku dengan salam ungu.
Salam yang tegas menampar kesadaranku
Dimana perempuan setengah baya yang tiap hari jalan kaki di jalan itu ?
O, itu dia…
: Berpayung plastik putih sedikit kumal.
Di punggungnya ada tenggok yang begitu berat dia bawa dengan selendang hitam
Seberat dia melakoni kemiskinan dan kesahajaannya
Meski dia tetap tegar dan berusaha untuk terus melangkah
Hujan rintik di ufuk pagi di sebuah dusun
Masih di bilangan Gamping, sebuah kecamatan di Jogja
Tak akan pernah hilang dari ingatanku, pagi itu.
Jogja, April 2002
Setetes Darah Sesesak Nafas di Kurusetra
Tercekam dalam dalam kesunyian diam, jiwa terhempasku
Di sini,
Di Kurusetra !
Pada bau anyir gundukan – gundukan tanah, masih begitu anyir
Bunga – bunga merah kamboja turut terluka, makin merah
Semerah darah tertumpah dari para pemberontak penguasa negeri
Setetes darah, sesesak nafas,
Hati menjelma dendam,
Tangan begitu kuat terkepal.
Mengepal, kumpulkan segala derita
Dendam mereka adalah muara segala penindasan
Para pemberontak melepaskan sumpahnya yang tertanam diubun – ubun
Seperti akar – akar kaktus di hamparan gurun
Mereka menunaikan tugasnya :
Memberontak pada penguasa negeri
Memberontak atas kekejaman yang melilit mereka
Memberontak atas pembunuhan – pembunuhan terhadap anak – istri mereka
Panji – panji lusuh mereka roboh, terinjak, tekoyak dan luka
Jatuh,…bersama tubuh – tubuh miskin meeka
Tanpa satu pun tersisa sekedar untuk menghirup sumpeknya udara negeri
Sebasah tanah oleh merah darah, seamis gelanggang.
Ini adalah gelanggang padang Kurusetra dengan lakon dan ending berbeda dari Bharatayuda,
Meski pengkhianatan, penderitaaan, ketamakan, penindasan dan pembuangan masih jadi tema besarnya.
Oo, Kurusetra,…
Padang ilalang duka – derita,
Di atasmu penuh kisah tragedi !
Darah, nahah, bangkai dan air mata telah menyuburkanmu
Meski pohon yang tumbuh di atasmu, tak pernah berbuah…
Jogja, Maret 2003
Di sini,
Di Kurusetra !
Pada bau anyir gundukan – gundukan tanah, masih begitu anyir
Bunga – bunga merah kamboja turut terluka, makin merah
Semerah darah tertumpah dari para pemberontak penguasa negeri
Setetes darah, sesesak nafas,
Hati menjelma dendam,
Tangan begitu kuat terkepal.
Mengepal, kumpulkan segala derita
Dendam mereka adalah muara segala penindasan
Para pemberontak melepaskan sumpahnya yang tertanam diubun – ubun
Seperti akar – akar kaktus di hamparan gurun
Mereka menunaikan tugasnya :
Memberontak pada penguasa negeri
Memberontak atas kekejaman yang melilit mereka
Memberontak atas pembunuhan – pembunuhan terhadap anak – istri mereka
Panji – panji lusuh mereka roboh, terinjak, tekoyak dan luka
Jatuh,…bersama tubuh – tubuh miskin meeka
Tanpa satu pun tersisa sekedar untuk menghirup sumpeknya udara negeri
Sebasah tanah oleh merah darah, seamis gelanggang.
Ini adalah gelanggang padang Kurusetra dengan lakon dan ending berbeda dari Bharatayuda,
Meski pengkhianatan, penderitaaan, ketamakan, penindasan dan pembuangan masih jadi tema besarnya.
Oo, Kurusetra,…
Padang ilalang duka – derita,
Di atasmu penuh kisah tragedi !
Darah, nahah, bangkai dan air mata telah menyuburkanmu
Meski pohon yang tumbuh di atasmu, tak pernah berbuah…
Jogja, Maret 2003
Kamis, Mei 13, 2010
Di Kesunyian Jiwa yang Merindu
Semburat pesona mentari di ufuk timur
Lembut semilir angin utara perlahan mengiring datangnya pagi
Sang waktu mengantar hari berganti
Dan alam pun berdzikir menyebut ke ajaiban Sang Pencipta
Sungguh pagi yang membuat jiwaku bergetar dalam damai
Di keheningan padang belantara pemikiran
Di kesunyian sekeping jiwa yang merindu
Aku tertegun
Merenungi tapak demi tapak jalan pehuh liku seakan tak berujung …..
Alangkah indahnya , jika setiap hati terselimuti oleh kasihmu
Tapi hasrat hanyalah sebuah keinginan membuncah
Sedang realita terpasung
Kadangkala,
Aku tak dapat membuktikan apa,
bagaimana dan siapa
Seperti keinginan sekeping jiwa yang bernyanyi sendu
Dalam hiruk pikuk dunia dan keajaiban alam raya
Aku berhening diri dalam kerangka hasrat
Meski aku mengerti, sungguh aku mengerti
Bumi terus berputar, waktu pun terus berlalu
Dan aku harus tetap melangkah
Tetap melangkah…
Jakarta, 13 Mei 2010
Lembut semilir angin utara perlahan mengiring datangnya pagi
Sang waktu mengantar hari berganti
Dan alam pun berdzikir menyebut ke ajaiban Sang Pencipta
Sungguh pagi yang membuat jiwaku bergetar dalam damai
Di keheningan padang belantara pemikiran
Di kesunyian sekeping jiwa yang merindu
Aku tertegun
Merenungi tapak demi tapak jalan pehuh liku seakan tak berujung …..
Alangkah indahnya , jika setiap hati terselimuti oleh kasihmu
Tapi hasrat hanyalah sebuah keinginan membuncah
Sedang realita terpasung
Kadangkala,
Aku tak dapat membuktikan apa,
bagaimana dan siapa
Seperti keinginan sekeping jiwa yang bernyanyi sendu
Dalam hiruk pikuk dunia dan keajaiban alam raya
Aku berhening diri dalam kerangka hasrat
Meski aku mengerti, sungguh aku mengerti
Bumi terus berputar, waktu pun terus berlalu
Dan aku harus tetap melangkah
Tetap melangkah…
Jakarta, 13 Mei 2010
SETYOWATI DAN BULAN FAJAR MERAH
Kabut api meski sejuk pagi buta ini. Berdetak bersama menyatu dengan ke-emasan cahaya bulan sisa-sisa semalam.
Sesak. Teramat sesak! Wajah pucatmu tak mampu sembunyikan nada gelisahmu.
Bulan fajar merah………………….. Cahaya emasmu bersatu dengan kabut api pagi menemani sosok gadis belasan tahun, Setyowati.
Duhai Setyowati…! Tubuhmu mulai kurus……… mengecil, seiring mengecil langkah-langkahmu menyusuri lorong – lorong hidup yang kian kabur. Berat dan kian berat! Beban yang engkau pikul meski pundakmu bukan pundak yang harus memikul beban di depan matamu, juga di sisi – sisi tanganmu.
Setyowati….! Rambut panjang lurusmu, kemana kini kilau hitamnya? Dan telah engkau buang kemana binar cerah di kedua bola matamu? Yang dengannya engkau melihat ikan – ikan emas di kolam hijau berbunga teratai ungu. Serta, yang dengannya engkau hiasi senyum - senyum indahmu.
Setyowati….! Siapa yang mengganti rona merah padang mbulan kedua pipimu dengan warna – warni pucat pasi dan titik – titik duka air mata? Kecewa, duka nestapa, kesunyian diam beratus rasa menyatu di dirimu kini, Setyowati.
Bulan fajar merah, Sinar emasmu menyatu dengan kabut api pagi ini. Sampai kapan kuatmu menemani gadis milik para burung, para bunga, juga taman – taman ini? Hingga duka dan tangisan ratusan wanita di dusun – dusun, di kota – kota, di kebun – kebun anggur pun tak mampu menandingi duka nestapanya.
Duhai Setyowati, Air matamu jatuh satu – satu, membasahi gaun putihmu, juga kaki – kaki kecilmu. Siapa yang telah tega menukar cinta suci dan setia-mu dengan busuknya dunia?
Jakarta, 13 Mei 2010
Sesak. Teramat sesak! Wajah pucatmu tak mampu sembunyikan nada gelisahmu.
Bulan fajar merah………………….. Cahaya emasmu bersatu dengan kabut api pagi menemani sosok gadis belasan tahun, Setyowati.
Duhai Setyowati…! Tubuhmu mulai kurus……… mengecil, seiring mengecil langkah-langkahmu menyusuri lorong – lorong hidup yang kian kabur. Berat dan kian berat! Beban yang engkau pikul meski pundakmu bukan pundak yang harus memikul beban di depan matamu, juga di sisi – sisi tanganmu.
Setyowati….! Rambut panjang lurusmu, kemana kini kilau hitamnya? Dan telah engkau buang kemana binar cerah di kedua bola matamu? Yang dengannya engkau melihat ikan – ikan emas di kolam hijau berbunga teratai ungu. Serta, yang dengannya engkau hiasi senyum - senyum indahmu.
Setyowati….! Siapa yang mengganti rona merah padang mbulan kedua pipimu dengan warna – warni pucat pasi dan titik – titik duka air mata? Kecewa, duka nestapa, kesunyian diam beratus rasa menyatu di dirimu kini, Setyowati.
Bulan fajar merah, Sinar emasmu menyatu dengan kabut api pagi ini. Sampai kapan kuatmu menemani gadis milik para burung, para bunga, juga taman – taman ini? Hingga duka dan tangisan ratusan wanita di dusun – dusun, di kota – kota, di kebun – kebun anggur pun tak mampu menandingi duka nestapanya.
Duhai Setyowati, Air matamu jatuh satu – satu, membasahi gaun putihmu, juga kaki – kaki kecilmu. Siapa yang telah tega menukar cinta suci dan setia-mu dengan busuknya dunia?
Jakarta, 13 Mei 2010
Dialog Dengan Seorang Pelacur Tua.
Tak peduli dengan keharuman memek atau pun bau ketek.
Juga bulatan tetek.
Ahh, kau makin tua !
Usiamu tertulis di lembar sejarah tinggal seumur embun di pagi hari.
Siapa kini ingin menyelipkan lembaran uang di sela – sela BH-mu ?
Juga menjemputmu dengan Mercy atau BMW ?
Adakah ?!
Kau tinggal seonggok tubuh berkidung sesal.
Sesal karena harus menjadi tua.
: Ah, andai aku muda dan abadi seperti Immortal Mc Leod, khayalmu.
Atau sesal karena harus melacur, 30 tahun lalu.
: Aku terpaksa, Cari kerjaan di Jakarta amat sulit Mas !, katamu .
Sedang perut masih butuh kenyang dan wajahku masih ingin di bedak dan di poles, katamu lagi.
Kasihan,
Untuk sekedar makan dan bayar kamar kost kini kau harap belas kasih lonthe – lonthe yunior-mu.
Kemana germo yang dulu kau di ajak ke Jakarta dari dusun yang ketika hujan jalannya becek dan berlumpur karena tak ber-aspal ?
Kau merenung kosong ke kalender tua yang masih saja kau pajang di tembok kamar.
Sekedar untuk mengenang hari pertama kau melacur di Jakarta, 30 tahun lalu.
Kau beri tanda jantung hati dengan spidol merah di tanggal itu !
Ya, hari pertama melacur dengan seorang presiden direkur sebuah perusahaan ternama.
Apakah engkau tau, dia mati kerena HIV,… setahun lalu.
Aku menulis nya di koran – koran.
Ahh, semoga kau tak kena virus konyol itu !
Karena kau harus menikmati sesal – sesalmu dan bercerita ke orang – orang tentang keharuman - keharuman memek, juga bulatan - bulatan tetek.
Bukankah demikian ?!
Juga bulatan tetek.
Ahh, kau makin tua !
Usiamu tertulis di lembar sejarah tinggal seumur embun di pagi hari.
Siapa kini ingin menyelipkan lembaran uang di sela – sela BH-mu ?
Juga menjemputmu dengan Mercy atau BMW ?
Adakah ?!
Kau tinggal seonggok tubuh berkidung sesal.
Sesal karena harus menjadi tua.
: Ah, andai aku muda dan abadi seperti Immortal Mc Leod, khayalmu.
Atau sesal karena harus melacur, 30 tahun lalu.
: Aku terpaksa, Cari kerjaan di Jakarta amat sulit Mas !, katamu .
Sedang perut masih butuh kenyang dan wajahku masih ingin di bedak dan di poles, katamu lagi.
Kasihan,
Untuk sekedar makan dan bayar kamar kost kini kau harap belas kasih lonthe – lonthe yunior-mu.
Kemana germo yang dulu kau di ajak ke Jakarta dari dusun yang ketika hujan jalannya becek dan berlumpur karena tak ber-aspal ?
Kau merenung kosong ke kalender tua yang masih saja kau pajang di tembok kamar.
Sekedar untuk mengenang hari pertama kau melacur di Jakarta, 30 tahun lalu.
Kau beri tanda jantung hati dengan spidol merah di tanggal itu !
Ya, hari pertama melacur dengan seorang presiden direkur sebuah perusahaan ternama.
Apakah engkau tau, dia mati kerena HIV,… setahun lalu.
Aku menulis nya di koran – koran.
Ahh, semoga kau tak kena virus konyol itu !
Karena kau harus menikmati sesal – sesalmu dan bercerita ke orang – orang tentang keharuman - keharuman memek, juga bulatan - bulatan tetek.
Bukankah demikian ?!
AKU MULAI MUAK
Aku mulai muak
Menunggu tanpa pernah bosan
Pada detik - detik di ujung gelisah
Di antara selusin pilihan
Di antara sekian kebenaran sekaligus ketakbenaran
Bagaimana aku harus mencari satu kata damai
Di antara butir – butir pasir gurun
Yang sudah bosan melihat kilau matahari
Di antara mulut – mulut peng-khotbah
Yang bau arak dan menyesatkan
Di antara senyuman para bidadari
Yang makin menggiurkan dan memabukkan
Diantara geliat penari bugil
Yang makin membangkitkan birahi
Diantara batu putih pada bukit – bukit kapur
Yang makin kering dan berdebu
Di antara wajah – wajah memelas bocah – bocah jalananan
Yang makin berisik menyanyikan lagu kemiskinanan di atas bus kota
Di antara muka – muka beringas preman
Yang baru saja memalak para penumpang di terminal – terminal
Bagaimana aku harus mencari satu kata damai
: sedang aku mulai muak menunggu…!
Menunggu tanpa pernah bosan
Pada detik - detik di ujung gelisah
Di antara selusin pilihan
Di antara sekian kebenaran sekaligus ketakbenaran
Bagaimana aku harus mencari satu kata damai
Di antara butir – butir pasir gurun
Yang sudah bosan melihat kilau matahari
Di antara mulut – mulut peng-khotbah
Yang bau arak dan menyesatkan
Di antara senyuman para bidadari
Yang makin menggiurkan dan memabukkan
Diantara geliat penari bugil
Yang makin membangkitkan birahi
Diantara batu putih pada bukit – bukit kapur
Yang makin kering dan berdebu
Di antara wajah – wajah memelas bocah – bocah jalananan
Yang makin berisik menyanyikan lagu kemiskinanan di atas bus kota
Di antara muka – muka beringas preman
Yang baru saja memalak para penumpang di terminal – terminal
Bagaimana aku harus mencari satu kata damai
: sedang aku mulai muak menunggu…!
Bunga Kenangan
Sebelum kau langkahkan kaki-kaki tegarmu
Pandang mekar bunga – bunga taman senja ini
Di hamparan berseri halaman
Sejak tanganmu memekarkan bunga – bunga itu.
Sebelum mentari terbenam,
Ingin kusematkan kembang di telingamu.
Sejenak menahan rembulan pulangkan engkau.
dan bibir beku bisikkan nada-nada perpisahan
Kita harus pulangkan setiap kata dan kisah pada lengkung langit jingga
Nanti ,
Setelah hilangmu, apakah aku serupa ranting kering
Dan tanpa lelah ku lukai wajah rembulan.
Hingga pucat pasi, hilang segala teduh nya.
Lalu ku yakin kau tiada dalam rupa rembulan
: langit pun lepaskan siluet bayangmu.
Dan gelap malam sembunyikan jasadmu
di balik lembut harum wangi kamboja
Pandang mekar bunga – bunga taman senja ini
Di hamparan berseri halaman
Sejak tanganmu memekarkan bunga – bunga itu.
Sebelum mentari terbenam,
Ingin kusematkan kembang di telingamu.
Sejenak menahan rembulan pulangkan engkau.
dan bibir beku bisikkan nada-nada perpisahan
Kita harus pulangkan setiap kata dan kisah pada lengkung langit jingga
Nanti ,
Setelah hilangmu, apakah aku serupa ranting kering
Dan tanpa lelah ku lukai wajah rembulan.
Hingga pucat pasi, hilang segala teduh nya.
Lalu ku yakin kau tiada dalam rupa rembulan
: langit pun lepaskan siluet bayangmu.
Dan gelap malam sembunyikan jasadmu
di balik lembut harum wangi kamboja
Pada Sebuah Senja di Jalan Ini
“Sampai kita ketemu lagi”…!,
Tangan mu melambai dan kau berkata dengan bibir bekumu
Engkau pun meneruskan langkah-langkah tegarmu.
Di jalan ini, yang dahulu sering kita lewati berdua.
Sejenak aku terperangkap dalam gamang,
Kutatap lembayung merah di lengkung langit
Begitu damai melatari siluet sosok mu yang perlahan pergi.
Sebait syair bersenandung dalam senjaku di penghujung musim,
Riuh bergema dalam dentang dawai angan liar ku
Setelah engkau lenyap dalam batas mata nanarku
Lalu…
Kutatap batas cakarawala dengan sebentuk senyum tulus namun pahit
Inilah kisah tentang sebuah kematian kecil berupa perpisahan
Selamat jalan kekasihku….!
Dan jalan ini pun kian sepi, sesepi jiwaku.
Tangan mu melambai dan kau berkata dengan bibir bekumu
Engkau pun meneruskan langkah-langkah tegarmu.
Di jalan ini, yang dahulu sering kita lewati berdua.
Sejenak aku terperangkap dalam gamang,
Kutatap lembayung merah di lengkung langit
Begitu damai melatari siluet sosok mu yang perlahan pergi.
Sebait syair bersenandung dalam senjaku di penghujung musim,
Riuh bergema dalam dentang dawai angan liar ku
Setelah engkau lenyap dalam batas mata nanarku
Lalu…
Kutatap batas cakarawala dengan sebentuk senyum tulus namun pahit
Inilah kisah tentang sebuah kematian kecil berupa perpisahan
Selamat jalan kekasihku….!
Dan jalan ini pun kian sepi, sesepi jiwaku.
LUKA ANAK PERAWAN
Anak perawan berdiri kokoh di ujung senja.
Memandang jalan…..
Jalang dan liar , ia tatap siapapun yang lewat.
Anak perawan menanti…
Menanti kekasih menghampiri, lalu mengajak pergi!
Pada suatu tempat indah. dan ia akan berkata
kepada ibunya, "Aku tak lagi sendiri, seorang pangeran
mengambil aku, bawa pergi ke tempat indah".
Lalu,…
Anak perawan tertegun diam dalam rumah.
Senyum kebisuan – kebisuan menghembus dari mulut bekunya.
Meratapi nasib, ia tak lagi berdandan.
Hatinya luka, pisau mengiris jiwanya.
Kekasih pergi bawa sebagian darah.
Dan,…
Anak perawan berlari pada lampu kota.
Mencari darah yang hilang di keramaian
Meminta kembali pada kekasih
Nyanyikan lagu permohonan dengan nada-nada sumbang.
Menggantung harapan
Hingga jiwa tenggelam pada sesal yang ia tak mengerti kapan berakhir.
Memandang jalan…..
Jalang dan liar , ia tatap siapapun yang lewat.
Anak perawan menanti…
Menanti kekasih menghampiri, lalu mengajak pergi!
Pada suatu tempat indah. dan ia akan berkata
kepada ibunya, "Aku tak lagi sendiri, seorang pangeran
mengambil aku, bawa pergi ke tempat indah".
Lalu,…
Anak perawan tertegun diam dalam rumah.
Senyum kebisuan – kebisuan menghembus dari mulut bekunya.
Meratapi nasib, ia tak lagi berdandan.
Hatinya luka, pisau mengiris jiwanya.
Kekasih pergi bawa sebagian darah.
Dan,…
Anak perawan berlari pada lampu kota.
Mencari darah yang hilang di keramaian
Meminta kembali pada kekasih
Nyanyikan lagu permohonan dengan nada-nada sumbang.
Menggantung harapan
Hingga jiwa tenggelam pada sesal yang ia tak mengerti kapan berakhir.
MALAM PERTAMA
Aku terlelap dalam mimipi –mimpi jahilku
Memeluk warna jingga bulan di perut bumi
Mencari indah di balik bening matamu
Mengais asa pada rumput- rumput kering yang terus bernyanyi
Meski agak asing terdengar di telingaku
Lalu kau datang kepadaku dengan gaun putih pengantinmu
Kau pun tersenyum dan berucap salam
Tak seperti senyum dan salam–mu tahun lalu
: senyum aroma kepahitan dan keheningan
: salam pun salam abu – abu.
Kau tarik kedua tanganku yamg mulai terbakar dengan tangan misterimu
Yang berhias permata biru
Mengajakku berlari menyusuri jalan setapak terbungkus badai kabut
Dengan lilin –lilin berjajar sepanjang jalan
Dan kita berhenti sejenak kemudian
Masih kau gandeng tangan –tangan terbakarku
Memandang lembah – lembah dan hutan – hutan pinus
Di antara Merapi – Merbabu
Angin malam yang sama menyapa daun – daun pinus dan cemara di lereng –lereng lekuk gemulaimu
Memeluk warna jingga bulan di perut bumi
Mencari indah di balik bening matamu
Mengais asa pada rumput- rumput kering yang terus bernyanyi
Meski agak asing terdengar di telingaku
Lalu kau datang kepadaku dengan gaun putih pengantinmu
Kau pun tersenyum dan berucap salam
Tak seperti senyum dan salam–mu tahun lalu
: senyum aroma kepahitan dan keheningan
: salam pun salam abu – abu.
Kau tarik kedua tanganku yamg mulai terbakar dengan tangan misterimu
Yang berhias permata biru
Mengajakku berlari menyusuri jalan setapak terbungkus badai kabut
Dengan lilin –lilin berjajar sepanjang jalan
Dan kita berhenti sejenak kemudian
Masih kau gandeng tangan –tangan terbakarku
Memandang lembah – lembah dan hutan – hutan pinus
Di antara Merapi – Merbabu
Angin malam yang sama menyapa daun – daun pinus dan cemara di lereng –lereng lekuk gemulaimu
Mengusung Dendam
Selembar kertas buram di meja tua ini
Suatu pagi di ruang baca perpustakaan kampus tua
Menjadi lidah atas kata batinku
Yang tersembunyi dan tenggelam
Di balik putus asa – ku
Segunung hasrat segumpal darah
Telah membunuh dan mengubur aku dalam kubangan bau anyir
Aku anak manusia:
Ayahku Adam, Ibuku Hawa
Masih kuasa mengusung dendam
Masih kuat membawa amarah
Menghancurkan kasih yang terlukis dalam kilatan cahaya damai
Pun remukkan jiwa
Membunuh rasa pada dan segala apa – apamu
Tanpa pernah sempat kamu balas sedikitpun!
Aku pun bisa megobral dendam di mata dan jiwamu dengan ujung - ujung lidahku
Karena dendamku adalah rasa kasihku berupa kebencian
Yang akan merasuk pada tiap – tiap jiwa yang terpanggang
Hingga terbelenggu
: Lalu sekarat tanpa rasa dan mati tanpa makna
Suatu pagi di ruang baca perpustakaan kampus tua
Menjadi lidah atas kata batinku
Yang tersembunyi dan tenggelam
Di balik putus asa – ku
Segunung hasrat segumpal darah
Telah membunuh dan mengubur aku dalam kubangan bau anyir
Aku anak manusia:
Ayahku Adam, Ibuku Hawa
Masih kuasa mengusung dendam
Masih kuat membawa amarah
Menghancurkan kasih yang terlukis dalam kilatan cahaya damai
Pun remukkan jiwa
Membunuh rasa pada dan segala apa – apamu
Tanpa pernah sempat kamu balas sedikitpun!
Aku pun bisa megobral dendam di mata dan jiwamu dengan ujung - ujung lidahku
Karena dendamku adalah rasa kasihku berupa kebencian
Yang akan merasuk pada tiap – tiap jiwa yang terpanggang
Hingga terbelenggu
: Lalu sekarat tanpa rasa dan mati tanpa makna
Meminum Bayangmu Di Gelas Pesta
Malam yang mempesona.
Aku hadirkan bayangmu lagi, entah yang ke berapa.
Lalu aku tuang ke dalam gelas pestaku.
Aku meminumnya.
: Menikmati bayangmu.
Hingga ku telan sampai lambung menetes ke hati.
Bayangmu meronta sambil meringis kesakitan.
Mungkin aku orang aneh yang terlahir di tengah musim bunga berguguran.
Meski aku belum merasa gila.
tapi, entahlah : gila atau waras.
Hanya orang lain yang berhak menilai atau bahkan memvonis.
Toh, orang yang gila menurutku, mungkin dia merasa waras.
Kembali ke bayangmu.
Ku hadirkan lagi.
: Aku pun menuangkan ke gelas pesta.
Aku minum. Namun rasa hausku tak hilang.
Bayangmu tak cukup meredam diam penderitaanku selama ini.
Karena berpisah denganmu adalah kepastian yang tak pernah aku cita – citakan.
Ku coba hadirkan engkau.
Berkali – kali aku meronta.
Ahh…aku tak bisa : mataku sakit, lidahku terhadang realita.
Malam, segeralah kau panggil matahari.
Bersama nyawa para embun menyambut fajar.
Kicau burung – burung.
Gemercik air di selokan – selokan.
Ku ingin menyambutmu, nanti !
Bersama anak –anak sekolah mananti bus kota.
Aku pun menanti hadirmu di sini.
Lalu bercerita tentang mimpi – mimpi indahmu di malam – malam hening pekat
tanpa kuasa rembulan.
Aku hadirkan bayangmu lagi, entah yang ke berapa.
Lalu aku tuang ke dalam gelas pestaku.
Aku meminumnya.
: Menikmati bayangmu.
Hingga ku telan sampai lambung menetes ke hati.
Bayangmu meronta sambil meringis kesakitan.
Mungkin aku orang aneh yang terlahir di tengah musim bunga berguguran.
Meski aku belum merasa gila.
tapi, entahlah : gila atau waras.
Hanya orang lain yang berhak menilai atau bahkan memvonis.
Toh, orang yang gila menurutku, mungkin dia merasa waras.
Kembali ke bayangmu.
Ku hadirkan lagi.
: Aku pun menuangkan ke gelas pesta.
Aku minum. Namun rasa hausku tak hilang.
Bayangmu tak cukup meredam diam penderitaanku selama ini.
Karena berpisah denganmu adalah kepastian yang tak pernah aku cita – citakan.
Ku coba hadirkan engkau.
Berkali – kali aku meronta.
Ahh…aku tak bisa : mataku sakit, lidahku terhadang realita.
Malam, segeralah kau panggil matahari.
Bersama nyawa para embun menyambut fajar.
Kicau burung – burung.
Gemercik air di selokan – selokan.
Ku ingin menyambutmu, nanti !
Bersama anak –anak sekolah mananti bus kota.
Aku pun menanti hadirmu di sini.
Lalu bercerita tentang mimpi – mimpi indahmu di malam – malam hening pekat
tanpa kuasa rembulan.
14 Mei 2003 : Sajak Buat Endang
Ku berikan buku kecil yang sudah agak lusuh itu kepadamu
Saat kubeli, buku itu masih suci
: Belum ada mata yang memelototi huruf demi huruf di lembar –lembarnya
Belum ada bekas minyak mnempel di cover, juga tulisan – tulisan nakalku yang menghias.
Dan…..
Kau minta aku untuk jangan pernah lupakan engkau
Aku tersenyum beberapa kali dengan senyum yang tidak kau pahami maupun yang bisa kau pahami.
Benarkah ?
Lalu kau beri aku sebuah pin kecil,…manis
Sayangnya aku kurang bisa mengerti makna pemberianmu ini
Mungkin engkau tak mau kalah denganku atau memang engkau benar – benar ingin aku tak lupa padamu.
Benarkah?
Teriring senyum. Senyuman asing!
Senyum yang tak bisa ku pahami
Telah aku lihat senyum, bermacam senyum
: baik yang terlihat di bibir maupun yang terbaca di mata
Namun tak sperti senyum-mu!
Lalu, dua minggu waktu pun pergi menghilang
Kini kutemukan dirimu juga asing bagi diriku, juga hatiku
Kucoba temukan dirimu di lorong – lorong labirin otakku
Tak kutemukan
Kecuali beberapa saat, itupun bukan wajah atu senyummu.
Tapi namamu.
Tak kuingat lagi lengkung wajahmu, hidungmu juga senyum asingmu.
Kucoba lagi untuk temukan wajah dan senyum asingmu di pin yang kau beri padaku
Tapi tak ku dapati engkau
Asing!
Dirimu juga hatimu
Seasing dulu, sebelum kau tersenyum padaku untuk pertama kali.
Saat kubeli, buku itu masih suci
: Belum ada mata yang memelototi huruf demi huruf di lembar –lembarnya
Belum ada bekas minyak mnempel di cover, juga tulisan – tulisan nakalku yang menghias.
Dan…..
Kau minta aku untuk jangan pernah lupakan engkau
Aku tersenyum beberapa kali dengan senyum yang tidak kau pahami maupun yang bisa kau pahami.
Benarkah ?
Lalu kau beri aku sebuah pin kecil,…manis
Sayangnya aku kurang bisa mengerti makna pemberianmu ini
Mungkin engkau tak mau kalah denganku atau memang engkau benar – benar ingin aku tak lupa padamu.
Benarkah?
Teriring senyum. Senyuman asing!
Senyum yang tak bisa ku pahami
Telah aku lihat senyum, bermacam senyum
: baik yang terlihat di bibir maupun yang terbaca di mata
Namun tak sperti senyum-mu!
Lalu, dua minggu waktu pun pergi menghilang
Kini kutemukan dirimu juga asing bagi diriku, juga hatiku
Kucoba temukan dirimu di lorong – lorong labirin otakku
Tak kutemukan
Kecuali beberapa saat, itupun bukan wajah atu senyummu.
Tapi namamu.
Tak kuingat lagi lengkung wajahmu, hidungmu juga senyum asingmu.
Kucoba lagi untuk temukan wajah dan senyum asingmu di pin yang kau beri padaku
Tapi tak ku dapati engkau
Asing!
Dirimu juga hatimu
Seasing dulu, sebelum kau tersenyum padaku untuk pertama kali.
Selembar Halaman Ayat
Begitu jauh aku dan Engkau
Selembar halaman dari Qur’an-Mu menjelma jarak
Ayat – ayat tak terkhatamkan
Dan tak dapat aku tembus untuk menuju-Mu
Dengan berabad nafas terhembus
Musim demi musim dan berlintas tarian bulan
Do’a dan mantera aku rapal
Menembus keheningan demi keheningan
Di malam – malam penuh hasrat
Selalu terpenggal kata Amiin, Ya Alloh….
Dan tiba- tiba aku merasa tak perlu menembus jarak itu segera
Karena nafas kehidupan masih panjang
Sedang rentang perjuangan masih terhampar luas seolah biru samudera
Apalagi genderang perang amat nyaring terdengar
Begitu banyak yang harus dikerjakan
Menjaga kota – kota tua :
Mekkah. Madinah dan AL Quds
Menjaga Ka’bah, Nabawi dan Al Aqso
Sementara darah dan nanah orang – orang Palestina, Iraq dan Afghan
masih juga belum kering
Ya Alloh, Ya Rabb,… ijinkan aku menembus ayat –ayat tak terselesaikan itu suatu saat nanti.
Seiring langkah – langkah memenuhi janji menuju-Mu
Selembar halaman dari Qur’an-Mu menjelma jarak
Ayat – ayat tak terkhatamkan
Dan tak dapat aku tembus untuk menuju-Mu
Dengan berabad nafas terhembus
Musim demi musim dan berlintas tarian bulan
Do’a dan mantera aku rapal
Menembus keheningan demi keheningan
Di malam – malam penuh hasrat
Selalu terpenggal kata Amiin, Ya Alloh….
Dan tiba- tiba aku merasa tak perlu menembus jarak itu segera
Karena nafas kehidupan masih panjang
Sedang rentang perjuangan masih terhampar luas seolah biru samudera
Apalagi genderang perang amat nyaring terdengar
Begitu banyak yang harus dikerjakan
Menjaga kota – kota tua :
Mekkah. Madinah dan AL Quds
Menjaga Ka’bah, Nabawi dan Al Aqso
Sementara darah dan nanah orang – orang Palestina, Iraq dan Afghan
masih juga belum kering
Ya Alloh, Ya Rabb,… ijinkan aku menembus ayat –ayat tak terselesaikan itu suatu saat nanti.
Seiring langkah – langkah memenuhi janji menuju-Mu
Pidatoku Yang Terakhir Untukmu
Seperti pagi – pagi sebelumnya,
Tak ada kopi baik manis ataupun pahit tersaji pagi ini.
Tak ada koran terbitan baru di atas meja tua itu,
( yang di atasnya sering aku pajang vas – vas keramik China berisi bunga mawar merah yang aku petik
dari kebun belakang rumah).
Juga tak ada kicau puluhan pipit di atas pohon – pohon cemara dengan daun – daun di hinggapi basahnya embun saat memancarkan cahaya kedamaian negeri.
Tapi, untunglah….masih ada senyum bunga – bunga melati menebar aroma surga.
Maka, mendekatlah padaku, wahai Engkau…
Yang tak bisa aku mendekap jiwamu.
Dengarlah pidato – pidatoku yang semoga untuk terakhir kali.
Meski terlihat usang, tetapi ini masih keluaran terbaru dari pabrik kata –kataku.
Dan…
Ambillah kertas serta tinta, karena ini amat sangat penting bagimu.
Setidaknya sebagi kenangan yang semoga terasa manis dariku,
wahai Engkau, yang jiwamu pun tak bisa aku kenali
Dengarlah syair – syair abstrak lewat ujung – ujung lidahku,
Menari membadai hasrat, menyesak sesak beratnya udara gunung.
Masih,
Kuping liarmu menikmati derasnya padato- pidato mengombak alun-ku,
Memecah bongkah –bongkah karang di lautan luas hatimu yang kemarin – kemarin
aku tak bisa menyeberanginya.
Karena kemarin – kemarin , aku hanyalah riak – riak kecil di atas air birumu.
Tapi kini aku adalah ratusan bergulung angin daan gelombang – gelombang ombak di atasmu
Lalu,….
Engkau menggigil ketakutan dan kebingungan meski berusaha untuk tegar dan tetap tersenyum.
Tak ada kopi baik manis ataupun pahit tersaji pagi ini.
Tak ada koran terbitan baru di atas meja tua itu,
( yang di atasnya sering aku pajang vas – vas keramik China berisi bunga mawar merah yang aku petik
dari kebun belakang rumah).
Juga tak ada kicau puluhan pipit di atas pohon – pohon cemara dengan daun – daun di hinggapi basahnya embun saat memancarkan cahaya kedamaian negeri.
Tapi, untunglah….masih ada senyum bunga – bunga melati menebar aroma surga.
Maka, mendekatlah padaku, wahai Engkau…
Yang tak bisa aku mendekap jiwamu.
Dengarlah pidato – pidatoku yang semoga untuk terakhir kali.
Meski terlihat usang, tetapi ini masih keluaran terbaru dari pabrik kata –kataku.
Dan…
Ambillah kertas serta tinta, karena ini amat sangat penting bagimu.
Setidaknya sebagi kenangan yang semoga terasa manis dariku,
wahai Engkau, yang jiwamu pun tak bisa aku kenali
Dengarlah syair – syair abstrak lewat ujung – ujung lidahku,
Menari membadai hasrat, menyesak sesak beratnya udara gunung.
Masih,
Kuping liarmu menikmati derasnya padato- pidato mengombak alun-ku,
Memecah bongkah –bongkah karang di lautan luas hatimu yang kemarin – kemarin
aku tak bisa menyeberanginya.
Karena kemarin – kemarin , aku hanyalah riak – riak kecil di atas air birumu.
Tapi kini aku adalah ratusan bergulung angin daan gelombang – gelombang ombak di atasmu
Lalu,….
Engkau menggigil ketakutan dan kebingungan meski berusaha untuk tegar dan tetap tersenyum.
Ku Jual Murah di Pasar Loak
Ku jual sebagian rasa setiaku padamu di pasar loak
Tak ketinggalan, juga sedikit cintamu padamu
Murah!!!
Bikin sedikit aku punya uang, juga semangat untuk tertawa ngakak
Dan buat aku merasa punya gengsi
: Meski aku tahu , kebodohan !
Lalu aku beli kehinaan berasa madu kegagahaan.
Menggiurkan,
Aku pun tertawa ngakak penuh hasrat sambil terkantuk –kantuk.
Semalaman bergadang,
: bukan main kartu remi atau ngaji
Tapi kencing!
Telah aku kencingi garis – garis sejarah yang terpampang di papan – papan reklame di sepanjang jalan kota tua ini
Ku jual sebagian rasa setia dan cintaku padamu di pasar loak
Murah!!!
Bikin aku sedikit punya uang untuk mabuk kepayang dan kepala melayang
Membuat matahari dan rembulan terasa mengalir di pembuluh – pembuluh darah
Lalu tergenggam keduanya di kanan – kiri tanganku
Aku tertawa ngakak sambil kentut daan meludah
Ku kentuti dengan rasa racun pada segala kepala dan isinya yang tak sesuai dengan kepalaku dan isinya.
Ku ludahi dengan rasa bisa pada segala makna dan arti yang tak bermakna dan tak berarti bagi jiwaku
Masih aku lanjutkan tertawa ngakakku dengan sisa – sisa semangat
Lalu diam !!!
Terasa miskin dan tak punya segala
Telah kujual rasa setia dan cintaku padamu di pasar loak.
Tak ketinggalan, juga sedikit cintamu padamu
Murah!!!
Bikin sedikit aku punya uang, juga semangat untuk tertawa ngakak
Dan buat aku merasa punya gengsi
: Meski aku tahu , kebodohan !
Lalu aku beli kehinaan berasa madu kegagahaan.
Menggiurkan,
Aku pun tertawa ngakak penuh hasrat sambil terkantuk –kantuk.
Semalaman bergadang,
: bukan main kartu remi atau ngaji
Tapi kencing!
Telah aku kencingi garis – garis sejarah yang terpampang di papan – papan reklame di sepanjang jalan kota tua ini
Ku jual sebagian rasa setia dan cintaku padamu di pasar loak
Murah!!!
Bikin aku sedikit punya uang untuk mabuk kepayang dan kepala melayang
Membuat matahari dan rembulan terasa mengalir di pembuluh – pembuluh darah
Lalu tergenggam keduanya di kanan – kiri tanganku
Aku tertawa ngakak sambil kentut daan meludah
Ku kentuti dengan rasa racun pada segala kepala dan isinya yang tak sesuai dengan kepalaku dan isinya.
Ku ludahi dengan rasa bisa pada segala makna dan arti yang tak bermakna dan tak berarti bagi jiwaku
Masih aku lanjutkan tertawa ngakakku dengan sisa – sisa semangat
Lalu diam !!!
Terasa miskin dan tak punya segala
Telah kujual rasa setia dan cintaku padamu di pasar loak.
Ruang Kuliah Yang Kemarin - Kemarin
Kujalani pagi yang berat , hari ini
Pagi ber-badai nafsu, ber-angin rindu
Berpelun – pelun ratusan bunga
Bercicit puluhan burung gereja
: Pagi yang berat
Dua pasang kipas angin terdengar berisik, meski agak sayup
Mengitari dan memutari dirinya,
Seiring otak dan kepalaku berputar mengelilingi tak indah-nya lengkung wajah Pak Dosen
Masih ruang kuliah yang kemarin –kemarin
Berhias enam lampu yang mulai redup
Seredup semangatku tentang dan untuk engkau
Kusapu ruang kuliah dengan mata jelalatan-ku
Memandangi satu persatu mahasiswa, baik yang aku kenal maupun tak aku kenal
Menangkap pikiran –pikiran mereka lewat rambut daan model – model baju mereka ,
Juga lewat wajah –wajah mereka yang tegang maupun yang santai –santai saja.
Ada yang aku pahami dan ada yang tak aku pahami sama sekali;
Juga ada setengah – setengah yang aku pahami.
Pagi yang berat!
Masih ruang kuliah yang kemarin – kemarin
Berlukis cat kuning pucat pasi tanpa motif
Berpuluh kursi kayu jati hampir semua mahasiswa mendudukinya
Menduduki segala hasrat
Menduduki semua mimpi - mimpi
Serius, tegang , wajah –wajah yang keras
Sekeras mereka meng-obok – obok rumus – rumus ataupun teorema – teorema
Demi hidup ,
Demi pacar dan kekasih gelap.
Demi ayah dan bunda,
Demi harga diri dan sebaris pembuktian
Juga tidak demi apa – apa atau bukan siapa - siapa bagi mereka
Pagi yang berat!
Masih ruang kuliah yang kemarin – kemarin.
Pagi ber-badai nafsu, ber-angin rindu
Berpelun – pelun ratusan bunga
Bercicit puluhan burung gereja
: Pagi yang berat
Dua pasang kipas angin terdengar berisik, meski agak sayup
Mengitari dan memutari dirinya,
Seiring otak dan kepalaku berputar mengelilingi tak indah-nya lengkung wajah Pak Dosen
Masih ruang kuliah yang kemarin –kemarin
Berhias enam lampu yang mulai redup
Seredup semangatku tentang dan untuk engkau
Kusapu ruang kuliah dengan mata jelalatan-ku
Memandangi satu persatu mahasiswa, baik yang aku kenal maupun tak aku kenal
Menangkap pikiran –pikiran mereka lewat rambut daan model – model baju mereka ,
Juga lewat wajah –wajah mereka yang tegang maupun yang santai –santai saja.
Ada yang aku pahami dan ada yang tak aku pahami sama sekali;
Juga ada setengah – setengah yang aku pahami.
Pagi yang berat!
Masih ruang kuliah yang kemarin – kemarin
Berlukis cat kuning pucat pasi tanpa motif
Berpuluh kursi kayu jati hampir semua mahasiswa mendudukinya
Menduduki segala hasrat
Menduduki semua mimpi - mimpi
Serius, tegang , wajah –wajah yang keras
Sekeras mereka meng-obok – obok rumus – rumus ataupun teorema – teorema
Demi hidup ,
Demi pacar dan kekasih gelap.
Demi ayah dan bunda,
Demi harga diri dan sebaris pembuktian
Juga tidak demi apa – apa atau bukan siapa - siapa bagi mereka
Pagi yang berat!
Masih ruang kuliah yang kemarin – kemarin.
Hujan Di Ufuk Pagi Di Sebuah Dusun
Gemercik rintik hujan di ufuk pagi
Tak ku sangka.
Shubuh – shubuh begini ?
Sedang perkiraan cuaca mengatakan :
“Yogyakarta Cerah, 24 – 30 derajat Celcius”
Begitu tulisan di TV semalam.
Ahh, ternyata…
Masih teramat pagi, hari ini
Dingin pun menusuk - nusuk tulangku
Butir – butir hujan jatuh satu - satu
Jauh ke depan ke batas lengkung cakrawala
Ku tatap dengan kedua bola mata liar ku
Jejalan hitam kian basah
Tak seperti biasa, udara menggelar aroma – aroma sepi
Sesepi aku menembus batas – batas keheningan
Dedaun dan ranting kelor menyalami aku dengan salam ungu.
Salam yang tegas menampar kesadaranku
Dimana perempuan setengah baya yang tiap hari jalan kaki di jalan itu ?
O, itu dia…
: Berpayung plastik putih sedikit kumal.
Di punggungnya ada tenggok yang begitu berat dia bawa dengan selendang hitam
Seberat dia melakoni kemiskinan dan kesahajaannya
Meski dia tetap tegar dan berusaha untuk terus melangkah
Hujan rintik di ufuk pagi di sebuah dusun
Masih di bilangan Gamping, sebuah kecamatan di Jogja
Tak akan pernah hilang dari ingatanku, pagi itu.
Tak ku sangka.
Shubuh – shubuh begini ?
Sedang perkiraan cuaca mengatakan :
“Yogyakarta Cerah, 24 – 30 derajat Celcius”
Begitu tulisan di TV semalam.
Ahh, ternyata…
Masih teramat pagi, hari ini
Dingin pun menusuk - nusuk tulangku
Butir – butir hujan jatuh satu - satu
Jauh ke depan ke batas lengkung cakrawala
Ku tatap dengan kedua bola mata liar ku
Jejalan hitam kian basah
Tak seperti biasa, udara menggelar aroma – aroma sepi
Sesepi aku menembus batas – batas keheningan
Dedaun dan ranting kelor menyalami aku dengan salam ungu.
Salam yang tegas menampar kesadaranku
Dimana perempuan setengah baya yang tiap hari jalan kaki di jalan itu ?
O, itu dia…
: Berpayung plastik putih sedikit kumal.
Di punggungnya ada tenggok yang begitu berat dia bawa dengan selendang hitam
Seberat dia melakoni kemiskinan dan kesahajaannya
Meski dia tetap tegar dan berusaha untuk terus melangkah
Hujan rintik di ufuk pagi di sebuah dusun
Masih di bilangan Gamping, sebuah kecamatan di Jogja
Tak akan pernah hilang dari ingatanku, pagi itu.
Malam yang Paling Gelap dan Penuh Pesona
Apakah engkau tahu
Kapan malam yang paling gelap
Karena bintang- bintang malas bersinar
Para bidadari melantunkan irama sumbang duka
Karena sang rembulan kehabisan terang
Apakah engkau juga mengerti
Kapan malam yang penuh pesona
Saat para kyai dan santrinya terlalu lelah untuk gemakan dzikir – dzikir mereka
Sementara di tempat lain,
lonthe – lonthe sibuk menjajakan tubuh semog atau tetek gede nya
Hingga tas – tas nya tak muat untuk menampung ciuman – ciuman dan muncrat sperma
: juga erangan –erangan serta rogohan – rogohan
Dan aku terus asyik main mata dengan buku – buku sastra para penyair kondang
: juga rumus – rumus matematika di diktat – diktat kuliah
Malam yang paling gelap dan penuh pesona
Hadir bersama dan bersatu dalam pesta – pesta.
Kapan malam yang paling gelap
Karena bintang- bintang malas bersinar
Para bidadari melantunkan irama sumbang duka
Karena sang rembulan kehabisan terang
Apakah engkau juga mengerti
Kapan malam yang penuh pesona
Saat para kyai dan santrinya terlalu lelah untuk gemakan dzikir – dzikir mereka
Sementara di tempat lain,
lonthe – lonthe sibuk menjajakan tubuh semog atau tetek gede nya
Hingga tas – tas nya tak muat untuk menampung ciuman – ciuman dan muncrat sperma
: juga erangan –erangan serta rogohan – rogohan
Dan aku terus asyik main mata dengan buku – buku sastra para penyair kondang
: juga rumus – rumus matematika di diktat – diktat kuliah
Malam yang paling gelap dan penuh pesona
Hadir bersama dan bersatu dalam pesta – pesta.
Langganan:
Postingan (Atom)