Aku terdampar di bibir pantaimu, Kinanti.
Lalu berguru pada semilir angin malam,
semburat cahaya rembulan dan kerlip bintang.
Dan lamat – lamat gedebur ombak
Setia menemani aku.
Aku luruh,
Terpaku diam dalam hening malam.
Hening namun bicara,
Hening namun gelora.
Aku terdampar di bibir pantaimu, Kinanti
Dan entah unggun kenangan mana yang telah membangkitkan mimpi-mimpi itu datang lagi.
Mimpi-mimpi tentangmu
Tentang lembut sapamu saat memanggilku
Tentang bening kedua bola matamu
Tentang gerai panjang rambut hitam mu
Juga tentang tarian genit semilir angin senja di halaman rumahmu
Aku terdampar di bibir pantaimu, Kinanti.
Dab biarlah mulai malam ini
Aku akan habiskan malam-malamku
menjadi malam - malam rahasia
: Menyusun siasat, taktik bahkan intrik
Untuk menaklukkan hatimu, Kinanti…..
Menulislah ketika lidah tak cukup untuk menyuarakan gelora dan hasrat di jiwamu.....
Tampilkan postingan dengan label Relief Keheningan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Relief Keheningan. Tampilkan semua postingan
Sabtu, Oktober 29, 2011
Jumat, Juni 11, 2010
Ziarah Kamboja
Pada ziarah sunyi ke kotamu,
Delapan purnama lalu…
Terekam indah kamboja yang pernah kau tanam
: di tanah–tanah merah yang pilu.
Kau siram dengan bening tetes air mata-mu.
Dan begitu harum serasa harum rambut hitam mu
: menelusup ke batinku yang terkoyak luka.
Lalu lahirkan bocah-bocah berwajah debu
: Mereka terus berlari sambut mekarmu…
Alunan hening waktu tak seperti kita duga ;
Kau pun seonggok batang kering, kini.
Dan kau terjang sepi.
Segala menjadi musnah ;
Terbenam hamparan kenang
dan terinjak panasnya waktu.
Pertandamu hanya alunan tangis bila malam membingkai sepi.
Pada penziarahan ini,
Kutabur wangi kenanganmu pada nisan yang bisu.
Sambil lagukan kidung sunyi memanggil engkau.
: dengan rapal mantra dan do’a.
Agar merasuk dalam jiwa heningmu.
Tapi tiba-tiba,
Seorang anak kecil memungut wangi kambojamu
dan ditancapkan di depan rumahnya.
Enatahlah, untuk apa ?!
Apakah untuk mengusir tangis mu di malam-malam sepi ?
Aku tak peduli…
Jakarta, 10 Juni 2010
Delapan purnama lalu…
Terekam indah kamboja yang pernah kau tanam
: di tanah–tanah merah yang pilu.
Kau siram dengan bening tetes air mata-mu.
Dan begitu harum serasa harum rambut hitam mu
: menelusup ke batinku yang terkoyak luka.
Lalu lahirkan bocah-bocah berwajah debu
: Mereka terus berlari sambut mekarmu…
Alunan hening waktu tak seperti kita duga ;
Kau pun seonggok batang kering, kini.
Dan kau terjang sepi.
Segala menjadi musnah ;
Terbenam hamparan kenang
dan terinjak panasnya waktu.
Pertandamu hanya alunan tangis bila malam membingkai sepi.
Pada penziarahan ini,
Kutabur wangi kenanganmu pada nisan yang bisu.
Sambil lagukan kidung sunyi memanggil engkau.
: dengan rapal mantra dan do’a.
Agar merasuk dalam jiwa heningmu.
Tapi tiba-tiba,
Seorang anak kecil memungut wangi kambojamu
dan ditancapkan di depan rumahnya.
Enatahlah, untuk apa ?!
Apakah untuk mengusir tangis mu di malam-malam sepi ?
Aku tak peduli…
Jakarta, 10 Juni 2010
Jumat, Mei 14, 2010
Aku Kehilangan Siluet Tawamu
Setajam pena tua menulis syair yang telah lama bergelut di palung hati.
Aku tulis semua cerita paling pilu di baris - baris puisi.
Tak selama yang kau bayangkan aku mampu bertahan.
Sekuntum kamboja di jiwaku kian ronta menuntut aku bicara.
Lalu aku lukis pada kesahajaan kertas ini.
Apakah aku harus menyesal pada perasaanku yang seolah tabu.
Akankah terlukis segaris tanya bila kau baca resah ini.
Seluruh resah, setumpuk hasrat, hanya berharap pada cinta dan deru nafsumu.
Kering dan lesu mataku bila kurenung rona matahari yang gerhana.
Lalu lenyaplah angka – angka dan arah.
Untuk aku kembali menyulam keindahan.
Tampias di jendela.
Menyulap warta dan aksara yang memberitakan ;
Aku telah kehilangan siluet tawamu .
Lemah dan berdebu berjengkal langkah.
Meng-anak sekarat gores luka pada hitam nadiku.
Bila ku hirup sisa cinta yang tertinggal.
Masihkah ada senyum beningmu?
Untuk aku tegarkan langkah kaki menjamahi hari – hari.
Menjamahi mimpi – mimpi.
Menjamahi sapa lembutmu.
Juga menyetubuhi anggun jelita bayangmu.
Jakarta, 15 Maret 2010
Aku tulis semua cerita paling pilu di baris - baris puisi.
Tak selama yang kau bayangkan aku mampu bertahan.
Sekuntum kamboja di jiwaku kian ronta menuntut aku bicara.
Lalu aku lukis pada kesahajaan kertas ini.
Apakah aku harus menyesal pada perasaanku yang seolah tabu.
Akankah terlukis segaris tanya bila kau baca resah ini.
Seluruh resah, setumpuk hasrat, hanya berharap pada cinta dan deru nafsumu.
Kering dan lesu mataku bila kurenung rona matahari yang gerhana.
Lalu lenyaplah angka – angka dan arah.
Untuk aku kembali menyulam keindahan.
Tampias di jendela.
Menyulap warta dan aksara yang memberitakan ;
Aku telah kehilangan siluet tawamu .
Lemah dan berdebu berjengkal langkah.
Meng-anak sekarat gores luka pada hitam nadiku.
Bila ku hirup sisa cinta yang tertinggal.
Masihkah ada senyum beningmu?
Untuk aku tegarkan langkah kaki menjamahi hari – hari.
Menjamahi mimpi – mimpi.
Menjamahi sapa lembutmu.
Juga menyetubuhi anggun jelita bayangmu.
Jakarta, 15 Maret 2010
Kamis, Mei 13, 2010
Sabtu pun Meranggas
Desir angin pagi sampaikan senyum ungu seorang bidadari pada sebuah nama yang tergagap - gagap di depan cermin tua.
Lau cermin itu pun berteriak dalam bengis tutur nya:
Inilah kamu, pengembara yang mendaki di persimpangan jalan.
O, bidadari yang bersengketa dengan sinar rembulan yang ingkar janji tadi malam.
Mengapa engkau berikan senyum ungu kepadaku ?
Aku hanya seorang perindu.
Dan untuk seorang perindu, penantian hanyalah sebuah tanda waktu.
Angka – angka yang bicara.
Sedang di hati perindu tak akan ada kata – kata yang menjelma jenuh luka.
O, hentikan saja jenaka bermadah.
Terlalu sering ku dengar.
Cerita cinta tak akan berubah.
Hanya sederet mimpi yang indah.
Sebuah akhir di ujung kecewa, pilu, terkoyak dan luka.
Bukalah sedikit hatimu, wahai bidadari
Kenali siapa aku.
Pada parit aku pendam rasa hati.
Sebuah jawaban untuk sebuah nama yang nenanti aku di musim - musim kematian.
....dan wahai lembayung pagi.
Sampaikan madu pada gelas pesta ini kepadanya.
Tak kusangka kegairahan, membuka gerbang seribu mimpi - seribu rindu sekaligus seribu cahaya rembulan.
Dan tak akan kubangun seribu menara di atas unggun dendam dan sebaris luka pada hati.
Jakarta, 15 Maret 2010
Lau cermin itu pun berteriak dalam bengis tutur nya:
Inilah kamu, pengembara yang mendaki di persimpangan jalan.
O, bidadari yang bersengketa dengan sinar rembulan yang ingkar janji tadi malam.
Mengapa engkau berikan senyum ungu kepadaku ?
Aku hanya seorang perindu.
Dan untuk seorang perindu, penantian hanyalah sebuah tanda waktu.
Angka – angka yang bicara.
Sedang di hati perindu tak akan ada kata – kata yang menjelma jenuh luka.
O, hentikan saja jenaka bermadah.
Terlalu sering ku dengar.
Cerita cinta tak akan berubah.
Hanya sederet mimpi yang indah.
Sebuah akhir di ujung kecewa, pilu, terkoyak dan luka.
Bukalah sedikit hatimu, wahai bidadari
Kenali siapa aku.
Pada parit aku pendam rasa hati.
Sebuah jawaban untuk sebuah nama yang nenanti aku di musim - musim kematian.
....dan wahai lembayung pagi.
Sampaikan madu pada gelas pesta ini kepadanya.
Tak kusangka kegairahan, membuka gerbang seribu mimpi - seribu rindu sekaligus seribu cahaya rembulan.
Dan tak akan kubangun seribu menara di atas unggun dendam dan sebaris luka pada hati.
Jakarta, 15 Maret 2010
Sajak Penyamaran Pandawa
Pada sebuah musim bunga di kemegahan istana Wirata.
Desir semilir angin pagi bergolak di keharuman taman istana .
Gemercik tetes – tetes air mengalun jatuh di pancuran.
Reranting kamboja merah bersengketa dengan perjalanan sunyi sang waktu.
Sedang gugur – gugur daun yang bersemayam di kolam masih juga tengadah pada ranting – ranting yang dulu melahirkannya.
“O, Yudhistira. Begitu pandai engkau wahai suamiku, namun begitu bodohnya engkau ! ”, batin Drupadi bergolak.
Hampir setahun Drupadi berganti nama.
Dan pada masa itu, orang – oarng Wirata memanggilnya Sarindhri.
Ya, Sarindhri !
Nama yang dulu Drupadi menyebutkannya ketika dia dan Pandawa memasuki Wirata sebagai sebuah penyamaran.
Dua belas tahun berlalu.
Begitu berat bagi Pandawa dan Drupadi harus mengembara dari hutan ke hutan.
Tiga belas tahun waktu yang di pertaruhkan lewat dadu di atas meja judi istana Hastina.
O, Sangkuni.
Begitu liciknya manusia itu…
Langkah Sarindhri begitu lembut menyusuri taman keputren istana.
Dan tertangkap di bening kedua matanya, Tantripala.
Begitu riuh tangan – tangan Tantripala merenungi nasib – nasib bunga di taman.
Seolah merenungi nasibnya :
Harus menyamar dan berganti nama dari sorang Sadewa menjadi Tantripala.
Yudhistira berpakaian sanyasin. Penasehat Wirata. Bijak dan cendikia.
Entahlah, mengapa dia memilih nama Kanka.
Abilawa, demikian penyamaran Bima.
Di tangannya, hewan – hewan terjagal lalu terhidang di atas meja – meja makan para pembesar Wirata.
Arjuna datang sebagai Wrehanala.
Begitu gemerlap pakaiannya.
Gemulai dia menari hingga selalu memicingkan mata yang melihatnya.
Sedang Nakula bersembunyi sebagai Grantika.
Begitu banyak kuda – kuda yang harus di latihnya untuk tunggangan pasukan berkuda Wirata.
Sungguh, begitu sempurna Pandawa menyamar pada kemegahan istana Wirata.
Hingga tak tersentuh mata – mata Hastina, sedikit pun.
Lalu,….terjadilah huru – hara itu.
Hastina dengan Karna sebagai panglima perang menyerang Wirata dengan begitu pongah.
Gegap gempita pasukan Hastina memasuki Wirata.
Dan Arjuna memasuki medan perang, datang menyambut…
Begitu gagah perkasa serupa Batara Indra.
Tajam sorot mata panahnya seolah belati menghunus jantung pasukan Hastina hingga remuk redam.
Sementara, dengan jiwa terbakar, Bima menghancurkan gajah - gajah Hastina.
Dan terdengar jeritan gajah – gajah itu, lalu menjelma riuh yang gaduh di medan perang.
Terkapar lalu mati.
Porak poranda….mengikis nyali dan nafsu perang seorang Karna.
O, Pandawa ….!
Kelima anak – anak Pandu itu pun mengusir Karna dan pasukan Hastina dengan jiwa – jiwa hening mereka.
Ini adalah hari terakhir penyamaran Pandawa di Wirata.
Tiga belas tahun sudah mereka lalui.
KIsah – kisah paling memilukan, harus terusir dari Hastinapura.
O, Jagad Dewa Batara !
Anak – anak Pandu membelah keheningan malam.
Dengan cahaya remang rembulan jingga.
Bersatu dengan desir angin purba.
“Arjuna, sudah lama kita tinggalkan peraduan cinta. Dari hutan ke hutan. Dari pantai ke pantai.
Menjamahi hari – hari. Menjamahi mimpi – mimpi. Mari kita bercinta, Arjuna !”, sapa kemayu Drupadi kepada Arjuna.
Dan mereka pun bercinta, meng-usaikan kisah – kisah paling memilukan :
Pembuangan dan penyamaran Pandawa.
Jakarta, 09 Maret 2010.
Desir semilir angin pagi bergolak di keharuman taman istana .
Gemercik tetes – tetes air mengalun jatuh di pancuran.
Reranting kamboja merah bersengketa dengan perjalanan sunyi sang waktu.
Sedang gugur – gugur daun yang bersemayam di kolam masih juga tengadah pada ranting – ranting yang dulu melahirkannya.
“O, Yudhistira. Begitu pandai engkau wahai suamiku, namun begitu bodohnya engkau ! ”, batin Drupadi bergolak.
Hampir setahun Drupadi berganti nama.
Dan pada masa itu, orang – oarng Wirata memanggilnya Sarindhri.
Ya, Sarindhri !
Nama yang dulu Drupadi menyebutkannya ketika dia dan Pandawa memasuki Wirata sebagai sebuah penyamaran.
Dua belas tahun berlalu.
Begitu berat bagi Pandawa dan Drupadi harus mengembara dari hutan ke hutan.
Tiga belas tahun waktu yang di pertaruhkan lewat dadu di atas meja judi istana Hastina.
O, Sangkuni.
Begitu liciknya manusia itu…
Langkah Sarindhri begitu lembut menyusuri taman keputren istana.
Dan tertangkap di bening kedua matanya, Tantripala.
Begitu riuh tangan – tangan Tantripala merenungi nasib – nasib bunga di taman.
Seolah merenungi nasibnya :
Harus menyamar dan berganti nama dari sorang Sadewa menjadi Tantripala.
Yudhistira berpakaian sanyasin. Penasehat Wirata. Bijak dan cendikia.
Entahlah, mengapa dia memilih nama Kanka.
Abilawa, demikian penyamaran Bima.
Di tangannya, hewan – hewan terjagal lalu terhidang di atas meja – meja makan para pembesar Wirata.
Arjuna datang sebagai Wrehanala.
Begitu gemerlap pakaiannya.
Gemulai dia menari hingga selalu memicingkan mata yang melihatnya.
Sedang Nakula bersembunyi sebagai Grantika.
Begitu banyak kuda – kuda yang harus di latihnya untuk tunggangan pasukan berkuda Wirata.
Sungguh, begitu sempurna Pandawa menyamar pada kemegahan istana Wirata.
Hingga tak tersentuh mata – mata Hastina, sedikit pun.
Lalu,….terjadilah huru – hara itu.
Hastina dengan Karna sebagai panglima perang menyerang Wirata dengan begitu pongah.
Gegap gempita pasukan Hastina memasuki Wirata.
Dan Arjuna memasuki medan perang, datang menyambut…
Begitu gagah perkasa serupa Batara Indra.
Tajam sorot mata panahnya seolah belati menghunus jantung pasukan Hastina hingga remuk redam.
Sementara, dengan jiwa terbakar, Bima menghancurkan gajah - gajah Hastina.
Dan terdengar jeritan gajah – gajah itu, lalu menjelma riuh yang gaduh di medan perang.
Terkapar lalu mati.
Porak poranda….mengikis nyali dan nafsu perang seorang Karna.
O, Pandawa ….!
Kelima anak – anak Pandu itu pun mengusir Karna dan pasukan Hastina dengan jiwa – jiwa hening mereka.
Ini adalah hari terakhir penyamaran Pandawa di Wirata.
Tiga belas tahun sudah mereka lalui.
KIsah – kisah paling memilukan, harus terusir dari Hastinapura.
O, Jagad Dewa Batara !
Anak – anak Pandu membelah keheningan malam.
Dengan cahaya remang rembulan jingga.
Bersatu dengan desir angin purba.
“Arjuna, sudah lama kita tinggalkan peraduan cinta. Dari hutan ke hutan. Dari pantai ke pantai.
Menjamahi hari – hari. Menjamahi mimpi – mimpi. Mari kita bercinta, Arjuna !”, sapa kemayu Drupadi kepada Arjuna.
Dan mereka pun bercinta, meng-usaikan kisah – kisah paling memilukan :
Pembuangan dan penyamaran Pandawa.
Jakarta, 09 Maret 2010.
Pada Sebuah Keheningan Pantai
Pada hening sebuah pantai ketika di sengketakan oleh sunyi waktu.
Aku pradaksina.
Menjelajahi lengkung – lengkung semburat merah cakrawala.
Desir angin utara begitu semilir mengalun.
Sedang sejuk embun pagi telah ruap ;
Menjelma ujung belati .
Begitu tajam menghunus darah dan kebisuanku selama ini.
Gedebur ombak lamat – lamat menyampaikan salam ungu dari perjalanan seorang pertapa padaku.
Entah sudah yang ke berapa !
Mengapa dia berikan salam ungu padaku lagi ?
Sedang aku selalu gagap, luruh dan rubuh untuk menerimanya.
O, pertapa di keheningan perjalanan.
Aku begitu linglung menyingkap salam – salam itu.
Juga pagi ini, aku tak kuasa untuk sekedar mengerti.
Tunjukkan wahai pertapa,
Apa artinya awan kelabu di ujung langit jiwa ku ?
Apa artinya keharuman di balik rona merah bunga kamboja ?
Apa artinya bongkah – bongkah batu di deru air sungai mengalir ?
Apa artinya gedebur lembut ombak yang tertawa di pantai ini ?
Karena aku mengerti, wahai pertapa.
Ada tanda di balik pertanda.
Aku di sini.
Merenung lalu melintasi langit penuh imaji.
Dan aku lukis warna pekat sekuntum kaboja.
Sepekat warna darah dan dosa.
Ancol, Jakarta. 07 Maret 2010.
Aku pradaksina.
Menjelajahi lengkung – lengkung semburat merah cakrawala.
Desir angin utara begitu semilir mengalun.
Sedang sejuk embun pagi telah ruap ;
Menjelma ujung belati .
Begitu tajam menghunus darah dan kebisuanku selama ini.
Gedebur ombak lamat – lamat menyampaikan salam ungu dari perjalanan seorang pertapa padaku.
Entah sudah yang ke berapa !
Mengapa dia berikan salam ungu padaku lagi ?
Sedang aku selalu gagap, luruh dan rubuh untuk menerimanya.
O, pertapa di keheningan perjalanan.
Aku begitu linglung menyingkap salam – salam itu.
Juga pagi ini, aku tak kuasa untuk sekedar mengerti.
Tunjukkan wahai pertapa,
Apa artinya awan kelabu di ujung langit jiwa ku ?
Apa artinya keharuman di balik rona merah bunga kamboja ?
Apa artinya bongkah – bongkah batu di deru air sungai mengalir ?
Apa artinya gedebur lembut ombak yang tertawa di pantai ini ?
Karena aku mengerti, wahai pertapa.
Ada tanda di balik pertanda.
Aku di sini.
Merenung lalu melintasi langit penuh imaji.
Dan aku lukis warna pekat sekuntum kaboja.
Sepekat warna darah dan dosa.
Ancol, Jakarta. 07 Maret 2010.
Pagi Yang Kehilangan Kicau Burung
Pada sebuah pagi yang kehilangan kicau burung.
Menjelma sebuah nama pada musim bunga yang selalu aku nantikan.
Membelah nadi di kepalaku.
Lalu angin utara begitu semilir mewartakan senyum ganjil di beku bibirnya.
Terseyum, dia datang padaku :
Sosok yang begitu ungu.
Dan bawa aku pergi bersama getar musim bunga yang mewangi.
Menghunus cakrawala dengan begitu tajam.
Telah aku hirup lagi sumpek udara pagi ibukota.
Aku di terdampar disini entah seberapa jenuh, di lambung kota yang riuh.
Dan aku saksikan bocah - bocah berwajah debu menuliskan mimpi - minpi liar mereka di tembok - tembok pinggir jalan.
Juga di atas trotoar.
Jejak malam yang ruap.
Begitu gemuruh namun sunyi dan hening.
Sedang sembab mataku begitu jauh, menelanjangi sorot mentari :
Menyimpan unggun - unggun kenangan.
Langit yang hampir rebah dan sekarat
Luruh pun runtuh.
Guntur pun kian gentur, menepi terbahak membahana.
Hujan deras dan airmata.
Berkilatan di pipiku, mengalir deras ke luas samudera.
Bergolak meng-alun ombak dan tertawa.
Jakarta, 14 Maret 2010
Menjelma sebuah nama pada musim bunga yang selalu aku nantikan.
Membelah nadi di kepalaku.
Lalu angin utara begitu semilir mewartakan senyum ganjil di beku bibirnya.
Terseyum, dia datang padaku :
Sosok yang begitu ungu.
Dan bawa aku pergi bersama getar musim bunga yang mewangi.
Menghunus cakrawala dengan begitu tajam.
Telah aku hirup lagi sumpek udara pagi ibukota.
Aku di terdampar disini entah seberapa jenuh, di lambung kota yang riuh.
Dan aku saksikan bocah - bocah berwajah debu menuliskan mimpi - minpi liar mereka di tembok - tembok pinggir jalan.
Juga di atas trotoar.
Jejak malam yang ruap.
Begitu gemuruh namun sunyi dan hening.
Sedang sembab mataku begitu jauh, menelanjangi sorot mentari :
Menyimpan unggun - unggun kenangan.
Langit yang hampir rebah dan sekarat
Luruh pun runtuh.
Guntur pun kian gentur, menepi terbahak membahana.
Hujan deras dan airmata.
Berkilatan di pipiku, mengalir deras ke luas samudera.
Bergolak meng-alun ombak dan tertawa.
Jakarta, 14 Maret 2010
Semalam Bersama Lonthe
Ini malam saat lonthe-lonthe berbuka beha
Mencari lelaki yang ingin netek
Lalu sembunyikan dalam rimbun bangunan ibukota
dan mengajak jumpalitan di antara kamar – kamar hotel
Hingga lampu jalan tak akan menerobos mata duitannya.
Malam ini lonthe – lonthe datang dari setiap arah
Tapi lampu mobil aparat membuat mereka tak berdaya
Wajah - wajah bertopeng di antara bayang cahaya,
Terbakar bila harus betemu dengan sanak kadang.
Mengigil tangannya serasa tak sanggup memegang segala hasrat.
: lalu terbang bagai kupu – kupu.
Kelelahan menatap pijar lampu jalanan kota.
Malam ini lonthe – lonthe menangis.
Menunggu setiap lelaki yang kesasar.
Dia rela tubuh terjamah lelaki meski berasa remang-remang.
Dan berbaris mesum terlahir menari gemulai oleh siulan nafsu.
Menumpahkan segala hasrat dan muncrat sperma.
Menuntut hilangnya harga diri dan nurani apalgi cinta.
Semalam bersama lonthe – lonthe :
Ini ibukota, kawan…!
Ketika duit lebih berharga dari cinta, kata lonthe – lonthe begitu bersemangat
Mencari lelaki yang ingin netek
Lalu sembunyikan dalam rimbun bangunan ibukota
dan mengajak jumpalitan di antara kamar – kamar hotel
Hingga lampu jalan tak akan menerobos mata duitannya.
Malam ini lonthe – lonthe datang dari setiap arah
Tapi lampu mobil aparat membuat mereka tak berdaya
Wajah - wajah bertopeng di antara bayang cahaya,
Terbakar bila harus betemu dengan sanak kadang.
Mengigil tangannya serasa tak sanggup memegang segala hasrat.
: lalu terbang bagai kupu – kupu.
Kelelahan menatap pijar lampu jalanan kota.
Malam ini lonthe – lonthe menangis.
Menunggu setiap lelaki yang kesasar.
Dia rela tubuh terjamah lelaki meski berasa remang-remang.
Dan berbaris mesum terlahir menari gemulai oleh siulan nafsu.
Menumpahkan segala hasrat dan muncrat sperma.
Menuntut hilangnya harga diri dan nurani apalgi cinta.
Semalam bersama lonthe – lonthe :
Ini ibukota, kawan…!
Ketika duit lebih berharga dari cinta, kata lonthe – lonthe begitu bersemangat
Langganan:
Postingan (Atom)