Kamis, Januari 07, 2010

46 Menit Bersama Rhama & Shinta

Kepada temanku,...Rhama.
Ini perpustakaan, Dab !

Tempat aku dan mereka menelanjangi lalu membedah tebalnya buku – buku
Juga diktat – dikat kuliah
Mencari sebaris angka dan sederet kata – kata
Di antara konyolnya sekian rumus dan fungsi

Jangan lagi kau belai rambut pacarmu itu.
Aku tahu,…rambutnya memang panjang dan indah.
Jangan lagi kau remas jari – jari tangannya
Aku juga tahu,…jari – jari tangannya memang lentik.
Jangan lagi kau cium merah bibirnya
Toh,..aku masih bisa melihat bibirnya yang merekah.

Kepada temanku,...Shinta
Ini perpustakaan, Mbak Yu!

Tempat mataku dan mata – mata mereka setengah mati mencari makna dan arti
Di balik sekian kata dan sejumput kalimat
Mencari sebaris angka dan sederet kata – kata

Kepada temenku,...Rhama dan Shinta.
Aku mengungkap tanya pada kalian ;
Apakah tak ada tempat yang lebih indah dan asyik buat kalian selain di sini ?

Hai,Rhama...Hai,Shinta !
Tumpahkan segala cinta kalian dengan lembut
Bahasakan hasrat, nafsu dan muncrat sperma kalian dengan indah
Tapi, tidak di sini !
Ini tempatku dan tempat mereka…
Tempat yang penuh nafas, peluh dan gelora.


Bulaksumur, Djogdja. April 2001

Jumat, November 27, 2009

Bumi Kita Makin Sekarat

Pada pahatan-pahatan batu
Kusampaikan malam ini pada tiap anak manusia
Lewat desir angin utara yang kian berat
: hingga melerai mimpi – mimpi jahil mereka
Lewat irama tembang sumbang serangga
Lewat auman harimau – harimau lapar
Lewat alunan sederet burung hantu kala menyanyi irama nestapa
: Bumi kita makin sekarat!

Gelombang ombak bertepuk tangan
Tanah- tanah retak gugurkan ribuan pohon kelapa
Kala Rama dan Shinta memadu cinta
Daun –daun kering berserakan di lembar – lembar sejarah
Tanpa pernah tahu kemana arah tujuan
Bayang – bayang musim kematian makin jelas
: Bumi kita makin sekarat!

Lingkarann-lingkaran gelombang menjalin badai
Layar-layar putih membunting angin
Lalu terdengar gemuruh topan patahkan tiang-tiang kapal
Sekaligus patahkan semangat sang Nahkoda
Segera bau anyir warna merah darah para pelaut tertumpah, tiba-tiba
Tajam gigi-gigi hiu keraskan jeritan mereka
Telah pergi,kemudian……entah kemana
: Bumi kita akan sekarat!

Sejarah telah mengukir cerita
Pada pahatan – pahatan batu cadas
Suara elang mati di pucuk-pucuk duri
Meng-akhiri puncak kelaparan mereka
Rindukan hujan pohon –pohon terpanggang
Daun layu gugur satu – satu
Auman singa dan macan tinggal kenangan
Mereka berkata dalam kebisusan
: Bumi kita makin sekarat!

Hijau rumput – rumput berganti kuning pucat
Sungai – sungai kehilangan amaanat dari sang hujan
Anak – anak menjangan menyanyi tembang- tembang duka
Kuda hitam tinggal sepasang
Danau biru yang dulu bening dan luaskini tinggal sepetak, itupun coklat
Tonggak – tonggak hijau sisakan kayunya
Tinggal burung – burung pemakan bangkai masih bisa terbahak dalam pesta
Meski sebentar lagi nasib buruk akan datang padanya
: Bumi kita makin sekarat!

Rabu, November 25, 2009

Di Persimpangan Jalan

Hati seolah tak punya jawab
Ketika kaki-kaki ini bertanya kemana lagi harus melangkah
Sedang jalan penuh simpang dan liku
Meski hati masih juga rindu lembut sapa bidadari
Namun aku seperti kehilangan tenaga untuk menggapainya
Begitu lelah aku mencari, seolah jatuh dan lumpuh

Namun aku bangkit dan tersadar
Ada bisik lembut menyapa sunyi batinku
Aku tak boleh menyerah
Dan harus terus melangkah
Meski hati belum juga menentukan kemana arah dan tujuan
Untuk lembut sapa bidadari …

Unggun Kenangan

Bening yang mendasari jiwa

Terhentak semilir angin di ujung senja yang kian malu-malu menghampiriku

Lalu…..

Aku pandang merah lembayung langit

Lembut awan putih awan menghiasinya

Perlahan,…..

Terkuak memori-memori liarku

Ter rekam jejak-jejak liku dan laku masa lalu

Meski terjatuh lalu bangkit dan tetap tegar berjalan

Oh, senja kala…..

Beberapa musim berlalu

Meninggalkan jejak tentangnya dan terukir kuat di lembar-lembar sejarah perjalananku

Tertulis indah senyum manisnya,

Bening kedua bola matanya,

Juga hitam lurus rambut di kepalanya.

Oh, senja kala….

Meski aku tahu, dia tinggal unggun kenangan

Namun tak mudah bagiku untuk melepaskan dia dari lorong hati.

Sedang sapa lembutnya masih terngiang indah di belantara jiwaku.

Selasa, Juni 23, 2009

JIWA PARA EMBUN

Kecamuk dalam bencana dendam 
Buah kebencian akibat dengki dari segumpal hati yang mati.

0h, embun…..
Tenggelamkan aku dalam heningmu
Mandikan aku dalam beningmu
Masukkan aku dalam sejukmu
Basuhlah aku dalam lembutmu

Oh, embun……
Meneteslah ke dalam panas hatiku  
Masuklah ke lorong – lorong sesat jiwaku
Jadilah hujan mengguyur kering batinku

Oh, embun…..
Masuklah ke jiwaku lewat nadi – nadiku
Gantikan panas darahku dengan sejukmu
Jadilah lautan tempat aku berenang dan bermain
: saat aku terlalu letih mengembara
Mencari arti sederet angka sebaris bait
Pada puisi – puisi yang menghias lengkung langit
Mengukir batu – batu cadas prasasti di kaki – kaki sejarah

Senin, Juni 22, 2009

SYAIR LAGUMU YANG TAK SELESAI

Ku coba menyanyikan syair – syair lagu yang kau tulis di malam kelabu itu.

Malam Sabtu, seminggu lalu.


Meski agak sulit aku nyanyikan, sebab musti memberi nada – nada 
Inilah syair terakhir yang kau tulis sebelum kau pergi bersama waktu dan beratnya angin malam musim gugur tahun ini.

Teriring bercak darah merah menghitam dan kisah – kisah yang terserak di lantai 
Dan lembar – lembar sejarah berabad –abad yang tertulis di kalender kamar ber-aroma melatimu.

Kau jemput musim kematianmu dengan pisau berlumut amarah
Oleh bayangmu sendiri yang kau sering bersengketa dengannya
Kau memilih dan menentukan jalanmu sendiri  

Kekasih, apa kabar di keheninganmu?
Masihkah kau ingin menulis syair – syair
Sedang kau kini terlalu berat untuk member jawab.

Di Kesunyian Jiwa yang Merindu

Semburat pesona mentari di ufuk timur
Lembut semilir angin utara perlahan mengiring datangnya pagi
Sang waktu mengantar hari berganti 
Dan alam pun berdzikir menyebut ke ajaiban Sang Pencipta
Sungguh pagi yang membuat jiwaku bergetar dalam damai

Di keheningan padang belantara pemikiran 
Di kesunyian sekeping jiwa yang merindu
Aku tertegun
Merenungi tapak demi tapak jalan pehuh liku seakan tak berujung …..
Alangkah indahnya , jika setiap hati terselimuti oleh kasihmu
Tapi hasrat hanyalah sebuah keinginan membuncah
Sedang realita terpasung 
Kadangkala,
Aku tak dapat membuktikan apa,
bagaimana dan siapa
Seperti keinginan sekeping jiwa yang bernyanyi sendu
Dalam hiruk pikuk dunia dan keajaiban alam raya
Aku berhening diri dalam kerangka hasrat 
Meski aku mengerti, sungguh aku mengerti
Bumi terus berputar, waktu pun terus berlalu
Dan aku harus tetap melangkah 
Tetap melangkah…


Jumat, Juni 12, 2009

Pada Engkau Semata

Ya Alloh...Ya Robbi...
Pada Engkau saja aku tempatkan segala rindu dan cinta ini
Menjelma indah di batas-batas hasrat
Meski aku tak kuasa memberinya dengan berpeluh puluh do’a dan berratus dzikir sebagai penghias
Hingga Airmata menggenang dalam dingin malam-malam pengembaraanku
Sesampai terlintas fajar di aroma ShubuhMU.

Cinta itu pulalah yang memberi aku semangat 
Untuk kuat mengibas pedang atau menarik picu senapan
Merebut dan menjaga tanah warisan para Syuhada’ tercinta
Yang dengan darah mereka bumi pun memerah basah
Dan meski aku sering kalah

Namun cinta itu pulalah yang mengobati aku kala terluka batinku
Yang sering berhenti di batas – batas nafasku 

Ya Alloh....Ya Rabbi...
Kaulah satu-satunya yang tak meninggalkan aku
Saat aku terbuai dalam kasidah – kasidah cinta yang lain
Saat aku terjebak dalam pesona – pesona lain
Saat aku terpedaya dalam keindahan – keindahan lain

Ya Alloh,...wahai Engkau yang bersemayam di atas ‘Arsyi
Hanya Engkau
Satu petunjuk pada jalan penuh simpang pengembaraanku
Satu tempat aku ingin kembali
Meng-usaikan semua langkah juga cita 
Hingga berada dalam hening dan beningMU.