Kamis, Mei 13, 2010

PETA DUNIA-KU BERWARNA HITAM – PUTIH

Seorang teman yang sudah kami lupa nama lengkapnya, bertanya pada kami :
“Dimanakah terletak gunung berapi yang tak punya lereng – lereng terjal, tak ada lembah – lembah dalam maupun kawah yang tiap saat mengeluarkan asap?
Juga ada rel kereta tapi tak ber-kereta dengan asap dan suaranya yang khas,
Juga ada jalan-jalan tak terlewati mobil-mobil baik yang mewah ataupun kuno juga bus-bus antar kota,
Juga ada danau-danau tak ber-air, apalagi angsa-angsa putih berenang di atasnya,
Juga ada kota – kota mati : tak ada penduduk baik laki-laki atau perempuan; muda atau tua yang entah kemana mereka pergi,
Juga ada laut dan samudera yang tidak lagi dipercaya untuk menampung birunya air?”

Tanpa berpikir dua-tiga kali, langsung kami jawab :
“Di peta, peta dunia-mu, kawan!”
Gelombang pertanyaan konyol kami jawab dengan konyol pula. Tapi benarkah ?
Jika memang benar, itu masih kurang tragis dari pada peta dunia kami.
Di peta dunia-nya, masih ada jalan – jalan merah menghubungkan lingkaran – lingkaran tanda kota.
Juga masih ada segitiga gunung dengan warna coklat atau kuning di sekitarnya.
Bahkan danu dan laut masih punya wrna biru kedamaiannya.
Di peta dunia-nya pun masih ada gambar pesawat tanda bandara, stasiun-stasiun atau stadion – stadion tempat manusia dengan berbagai warna kulit, bentuk rambut atu model baju berkumpul , bercanda dan berpesta……

Tapi,
Di peta dunia kami hanya ada dua warna, hitam dan putih.
Itupun terkotak – kotak.
Penduduk kami hanya ada dua pilihan, berada di area hitam atau area putih.
Tidak boleh di antara hitam dan putih, itu kehinaan bagi kami.
Dan ketika sudah memilih area, maka bersiaplah untuk membunuh arau mati terbunuh.
Berbagai jurus dan senjata kami punya, termasuk siasat – saiasat dan taktik – taktik juga intrik.
Itu penting, sangat penting!
Karena kami harus mempertahankan keyakinan – keyakinan, gaya hidup dan eksistensi kami.
Kami boleh menyeberang berganti area , meski harus di benci dan dicap sebagi pengkhianat oleh teman – teman lama kami padahal teman – teman baru kami menyambut kami sebagai pahlawan.
Kami saling menjatuhkan, yang akhirnya jatuh terbuang atau keluar sebagai pemenang.
Ada yang ksatria di antara kami, meski banyak pula yang licik penuh intrik
Ada yang berperang dengan otot kawat balung wesi saja, ada pula yang hanya otak super jeniusnya saja yang dipamerkan.


Di peta dunia kami, hanya bendera hitam dan putih saja yang boleh di kibarkan di langit hitam putih pula.
Di peta dunia kami, hanya ada dua warna, hitam dan putih.
Tidak boleh berada di antara keduanya, karena itu kehinaan bagi kami.
Tidak ada kaum munafik di dunia kami

Di peta dunia kami, hanya ada dua warna, hitam dan putih.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar